Rabu, 16 Desember 2009

nur allein


allein... hmmm... warum nicht???

jetz bin ich allein in Stufen..

Teman-teman saya sudah meninggalkan saya sejak tadi, sibuk dengan kegiatan berikutnya.. ada yang karena harus mengejar kereta, ada juga yang harus mengajar lagi atau ya memang sudah waktunya pulang, bertemu dengan istri tercinta di rumah..

und ich?..

warum bleibe ich noch im Büro?...

ich habe doch Famlie, meine Eltern warten auf mich.. ich liebe sie auch..

aber warum bin ich allein hier?

Allein... allein...

früher,, ich dachte, ich will nicht mögen, wenn ich allein muss.. ich fühle mich Einsamkeit.. jiaaaaaaah.. das ist unmöglich..

ich habe viele Freunden, grosse Familie,,, warum muss ich allein?

Die Zeit antwortet das... SETIAP ORANG PUNYA KESIBUKAN SENDIRI dan kadang ingin punya PRIVASI...

suka tidak suka akhirnya saya mengalami juga masa saat saya harus sendiri..

ternyata saya menikmatinya.. dan saya cukup terkejut akan hal itu..


ich kann geniesse meine Alleinsein..

wenn ich allein waere

ich kann schreiben,,
ich kann doch viele Buecher lesen,,
ich kann auch ein oder mehrere Gedichte, Prosa oder Erzaehlung schaffen

ich habe keine Angst mehr, wenn ich allein muss.. denn ich kann kreativ sein

manchmal denke ich ,, apa saya mulai berubah?..
noenk yang ramai, cerewet, banyak kesibukan.. aber jetz mag sehr die Alleinsein.. und kann nicht so geniessen, wenn es viele Leute gibt???...

trotzdem... hoffentlich... nich immer allein..

Allah.. gibt mir ewiger Freund..

Dumm... dumm... dumm oder??

loha loha... ich moechte auf Deutsch schreiben.. obwohl mein Deutsch schon kaputt ist.. so... lachen Sie nicht Bitte, wenn Sie viele Fehler finden .. hehehehe

hmmm.. ich bin sehr verwirt mit mein Leben, mit meiner Liebe... argggh

menghitung hari.. detik demi detik..., ich singte ein Lied von Krisdayanti, als er mich anrief, dass er zu mein Haus kommen wurde.. ja. ich wartete auf ihn... von Mittwoch oder Donnerstag (aaah ich habe vergessen) bis Montag.. ich wartete auf Schokolade von ihm...

Ploetzlich... am Montagsmorgen... ting tung.. er schickte mir sms.. "noenk. ich kann nicht dich besuchen, Entschuldigung". oooooh nein... "ich kann am Mittwoch"

obwohl ich sehr enttaeuscht bin, ich versuche zu verstehen...

Montagsabend,, ich rufte ihn an, und........ seine liebe Freundin, die antwortete.. nuing nuing nuing.. cenad cenud... Noeeeeeeeeeeeeeeeeeenk plisss dehw..

er koennte nicht kommen, denn er fliertete.. huhuhuhuhuhu..

ooh mein Schatz.. ich hasse dich sehr.. ngek ngok..

Am Dienstag.. meine Freundin erzaehlte, wenn sie und er Galunggung am Mittwoch steigen wurde... ohh.. tuing tuing

dumm... dumm... dumm... ich warte auf jemanden, der mich nicht schaetzte..

ich argere mich nicht, wenn er das sagte.. aberrrrrrrr er sagte nicht..

aaaaaaaaaaaarrrrrrrggggggggggh... dumm dumm dumm... jetz moechte ich nur auf die Zeit warten...

egal, irgendwas du machst.. ich versuche nur zu verstehen.. und geduldig zu sein,,
und warte auf die Zeit..

dumm dumm dumm.. ich kann gute schlaffen und geniessen schmecktes Essen..

grrrrrrrrrrrrr

Kamis, 10 Desember 2009

Rinjani - Indahnya Negeriku

Hallo teman...

kali ini aku ingin membagi kisahku menelusuri keindahan negeriku dari tempatnya dewi anjani bertakhta.. yups.. inilah petualanganku di Rinjani..

Gunung Rinjani adalah gunung yang berlokasi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gunung yang merupakan gunung berapi kedua tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3.726 m dpl... (http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Rinjani)

keinginanku mendaki gunung eksotis ini sebenarnya sudah sejak tiga tahun yang lalu.. pada saat itu aku sudah berencana mendaki bersama sahabatku berpetualang imeh, tapi karena banyak alasan akhirnya semua itu baru terealisasi tahun ini.. Alhamdulillah..

23 September-2 Oktober 2009,, pendakian masal RINJANI 9 Bersama JEJAK ADVENTURE

pertama kali kulihat tanggal itu... hmmm gilaaaaaa,, itukan masih lebaran,. tapi niat seorang petualang nekad mana bisa dihentikan.. ups,, kecuali Allah yang berkehendak tentu saja.

walau hanya sendiri aku tetap putuskan berangkat, toh aku pasti akan mengenal peserta lainnya..

berangkat tanggal 23 sept. pagi dari markas JEJAK, aku masuk kelompok 5 dengan bang ndin, kuplex, deny, iyot dan boim.. aku jadi yang terimut dan yang tercantik tentu saja hehehehe...

singkat cerita... sepanjang hari di bus, dilanjutkan dengan angkot kecil lalu sampai tengah hari di desa awal,, entah apa nama desanya..

Start siang hari selepas Sholat Jumat, panas dan berdebu sempat membuat dag dig dug,. maklum pendakian sebelumnya ke semeru aku nyaris tak tahan.. khawatir menyusahkan.

Tapi ALhamdulillah semua baik2 aja,, bahkan staminaku kurasakan luar biasa..

Medan pertama yang kita tempuh adalah padang sabana yang luas dan berbukit-bukit. Karakteristik alam ini hampir menyerupai Taman Nasional Semeru. Hal inilah yang sempat membuatku merasa bosan dan kurang menikmatinya. Terlebih tanah tandus berdebu disertai panas yang menyengat membuat staminaku cepat terkuras. Hanya di beberapa tempat terhampar rumut ilalang yang lebat.

Semakin menuju arah puncak, medan perjalanan semakin berat kurasa, semakin terjal walau semakin rimbun karena banyak pepohonan tumbuh di sana.

Alhamdulillah setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, sampai jg di pelawangan (punggungan gunung) Sembalun Lawang, pos pendakian terakhir sebelum menuju puncak... waaaah banyak sekali monyetnya... grrrr. Di Pelawangan Sembalun Lawang ini kta bisa menyaksikan keindahan Danau Segara Anakan. Mantab.. indah bener.

Cuaca di tempat ini berubah-ubah, kadang bisa diserang angin dingin secara mendadak.. karena inilah ada beberapa tenda yang rusak.

Dinihari, sekitar pukul satu pagi, kami bersiap-siap menuju puncak. segala perbekalan pun dipersiapkan.. angin kencang dan dingin menyambut kami, serasa meruntuhkan semangat kami.. satu demi satu teman-teman mulai berguguran. Alhamdulillah walau diserang rasa lapar dan keletihan dengan perlahan aku tiba juga di puncaknya. walau sayangnya aku hanya bisa melihat sun rise dari lerengnya saja.. waaaaah keren banget,,, Subhanallah... Alhamdulillah.. NikmatMu manakah yang bisa kami dustakan ya Allah..

lelahnya naik membuatku malas beranjak turun.. Pfuuh.. lapar sekali perutku

Hanya berniat main-main perosotan di lereng berpasir, tak sadar kalau jurang menantiku di bawahnya.. Kakiku terus meluncur turun ke bawah,, jika tak ada Bang Icin (sang Ranger Rinjani), tak ada aku lagi di sini menceritakan kisahku...

Dasar pendaki dodol... noenk.. noenk.. Alhamdulillah masih diberi umur.

Selesai membenahi semua perlengkapan, kami melanjutkan perjalanan menuju Danau Segara Anakan, yang medannya tak kalah menegangkan. Para pendaki harus hati-hati menuruni lereng cadas dengan kemiringan berkisar 40-80 derajat, karena bebatuan bisa runtuh begitu saja.

Danau Segara Anakan, dianggap sebagai tempat yang sakral oleh suku Sasak. hal ini dibuktikan ada perayaan adat di tempat tersebut pada waktu tertentu. Mereka menghormati tempat ini sebagai tempat persemayaman dewi Anjani.

Selain dimanjakan oleh pemandangan yang menakjubkan, kita bisa melepas kepenatan dengan memancing di danau atau berendam di kolam air panas yang terletak berapa ratus meter dari danau..

Yang paling mengasyikan, tentunya membakar ikan di pinggir danau. kalau kita tidak berhasil mendapatkan hasil dengan memancing, kita bisa mendapatkan dari penduduk setempat yang memancing di sana...

Di seberang danau terdapat Gunung Baru yang masih aktiv melontarkan laharnya.. suaranya yang sangat jelas terdengar di malam hari itu loh membuat suasana sangat menegangkan.. whust... luar biasa

Setelah seharian di sana, akhirnya kami harus kembali turun untuk menuju peradaban,,, kami turun melalui jalur Torean, karena jalur Senaru di tutup. Pengalaman baru melalui jalur yang luar biasa ini,, 12 jam baru sampai perkampungan.. Pfuh..

Selesai semua pendakian yang meletihkan ini, kami diberi bonus bersenang-senang ke Senggigi dan Bali... saatnya Shoping... yeaahh..

ALBUM FOTO :

Formasi lengkap tim 5




Di Sembalun Lawang


Pesta Para Kera


Dari Puncak






Aksi Penyelamatan.. ^_^




Jalur Puncak dari kejauhan


Di danau Segara Anakan:






Turun melalui Jalur Toren yang luar biasa :


Senin, 07 Desember 2009

Psyco

Aku mencintaimu dan hanya mencintaimu
Untuk sekarang, esok, lusa dan hingga aku menjadi jasad kaku

Diam dan nikmatilah cintaku padamu

Ssst... tenanglah jangan mengeluh

Kuikat dirimu karena aku ingin melindungimu
Bukan untuk melukaimu

Rambutmu begitu Indah
Izinkan aku menjadikannya sebagai hiasan kamar
Sebagai pengobat rinduku padamu

Matamu bersinar terang
Aku ingin melihat dengan kedua matamu
Izinkan aku memilikinya
Agar aku dapat melihat apa yang kau lihat dengan mata indahmu

Ssst... tenanglah jangan mengeluh

Diam dan nikmatilah cintaku padamu

Darahmu begitu manis berasa
Menghilangkan haus dahagaku
Izinkan aku menikmatinya
Agar kita terus bersama
Hingga jasad tanpa raga

Ssst... tenanglah jangan mengeluh

Diam dan nikmatilah cintaku padamu

-Fr.N-
10.11.2009

re-post

Sayap-Sayap Patah

Terbentang lebar siap terbang
Menebarkan harum mewangi ke penjuru negeri
Mengundang para pujangga
Menciptakan syair-syair cinta

Para malaikat turut menari
Bersama para peri menyambut pagi
Mentari tertawa bahagia
bunga-bunga bersenda gurau

Langit menjadi gelap
Awan hitam menggelayut manja
Angin turut berpesta
Matahari pun menunduk sedih

Malikat pun pamit undur diri
Sang Peri bersembunyi lari
Tapi angin menjadi badai
Berhembus dan mendesis keras

Sang Dewi terlambat lari
Sayapnya tergores dan terluka
retak

Dewi bangkit dan tetap berdiri
Badai datang lagi lebih kencang
Menghempas jatuh sang Dewi
yang terhempas dan terjengkang

Perih dan terluka
Sang Dewi jatuh luruh
bersama sayap-sayapnya yang patah

-Fr.N-
8.11.2009

re-post

Berlari dari Bayang-bayang

Kulihat anak itu berlari dan terus berlari, bertelanjang kaki menantang panas matahari. Esoknya kulihat dia kembali, masih terus berlari dan berlari. Kucoba dekati dirinya namun tak bisa kukejar. Tubuhnya semakin ringkih dan pucat. Di suatu malam, kulihat dia di berdiam diri di bawah sebuah pohon. Tubuhnya sangat kelelahan, karena terus berlari sepanjang siang.

“kenapa kau selalu berlari di siang hari? Apa kau tidak lelah?” tanyaku

Dia tidak menjawab, hanya matanya yang menatapku tajam

“apa yang sebenarnya kau cari?”, tanyaku kembali

“aku ingin menjauh dari bayanganku, aku benci dia selalu mengikuti. Kegelapannya sangat menyiksaku. Tolong bantu aku menjauhkan dia dari aku.” Jawabnya sambil terisak-isak pilu

“ Bayangan itu bagian dari dirimu teman, biarkan saja dia tetap menjadi bayanganmu.”

“ Tapi kenapa dia harus ada. Dia membuatku bermimpi buruk.”

“ Kita mempunyai bayangan, karena Allah sudah menggariskan itu kepada kita. Kenapa kita harus mengingkari sesuatu yang sudah ditakdirkan untuk kita?”

“ Tolonglah jauhkan dia dari aku.” Pintanya

“ Biarkan dia tetap ada, karena kita tak akan bisa menghindar, sekuat apapun kita berlari. Kalau kau tak suka, janganlah kau menoleh kebelakang. Tataplah jalanmu di depan!” saranku

“ Kadang dia pun ada di depan atau di sisi kita. Aku benar-benar benci dia.”

“ Biarkan saja! Anggap saja dia ada untuk mengingatkan kita akan keberadaannya. Lama-lama kaupun kan terbiasa dengan hadirnya. Lama-lama mimpi burukmu pun pasti kan berlalu.”

Dia diam membisu mendengar saranku, matanya hanya menatap kakinya yang melepuh karena terbakar panasnya aspal jalanan.

“ Aku hanya ingin tidur lelap, tanpa mimpi.”
Anak itu meringkuk memeluk tubuhnya serapat mungkin dan tidur dalam lirih.


***
Bayangan itu seperti masa lalu,, sudah berlalu dan biarkan saja tertinggal di belakang. walau harus diakui tidak mudah menyingkirkannya begitu saja,, terutama masa-masa yang begitu menyesakkan dada. Bagaimanapun masa itu adalah bagian dari diri kita yang memang sudah digariskan.

ya Allah bantu kami menjaga hati-hati kami, supaya kami bisa mengikhlaskan yang sudah terjadi dan terlepas dari kami. Sinari hati-hati kami selalu agar kami bisa melihat hikmah dibalik setiap kejadian..

Fr.N
31.10.2009

re-post

GADIS HUJAN

Mendongak menatap langit
Menantang sang Mentari
Terdiam mematung bak pualam
Wajah beku pucat pasi

Langitpun berduka
Awan hitam bergelayut manja
Sang gadis tersenyum lebar
Bersenandung lagu-lagu cinta
Karya para pujangga

Hujan turun tumpah tak terbendung
Bertelanjang kaki gadis menari
Berlari-lari riang
Mengikuti ritme sang hujan

Sang surya kembali bertengger
Menduduki sang singgasana
Sang gadis kembali mematung
Berdoa dalam diam
Membeku dalam luka


-Fr. N-
Jkt, 26.10.2009

re-post

???

k o S o n g
h A m p a
ru s a K
l i r I h
t e r T u s u k

-Fr.N-
22.10.2009

re-post

Surat CINTA untuk HATI

Wahai teman
Izinkan aku Pamit
Meninggalkan rumahmu dengan damai

Teman...
Rawatlah rumahmu
Jadikan rumah yang bersih dan indah
Bersihkan selalu dari debu-debu yang menempel
Jangan biarkan ia menjadi kotor, hitam dan kusam

Hiasilah dengan keindahan
Jangan lupa selalu asrikan dengan bunga-bunga nan cantik menawan

Terangilah selalu dengan cahaya Qurani
Jangan biarkan menjadi gelap dan suram

Jagalah dari maling yang merusak
Pastikan jendela dan pintu tertutup aman
Gembok dan kunci pagarnya
Pastikan terbuat dari baja murni yang tahan karat
Agar tak lagi mudah sembarang orang bisa masuk
jangan lupa sandi rahasia tetap terpasang

Teman...
Jangan nantikan aku kan kembali
Karena akupun tak tahu kapan ku bisa kembali

Aku kan kembali
Hanya bila ada yang bisa membuka sandimu
Masuk kedalam rumahmu
Tanpa mengurangi keindahannya,
Memudarkan cahayanya,
Mengotori raganya.

Teman...
Jangan tunggu aku kan kembali
Karena aku pun tak tahu kapan ku bisa kembali
Tapi pasti aku kan kembali



-Fr. N-
Jkt, 20.10.2009


re-post

Aku dan Api

Ketika aku mau masuk ke dalam rumah itu, banyak yang membunyikan alarm peringatan.

“ Jangan masuk ke dalam!” kata mereka. “ Di dalam begitu panas membara. Apinya berbahaya untuk kau dekati.”

Tapi dengan begitu yakinnya aku berkata, “ Bismillah!, tenang saja teman, aku tidak ingin main-main. Akupun hanya ingin api ini lebih adem. Panasnya api ini harus dihentikan.”

Dengan membaca Basmalah, aku memohon perlindungan kepada Allah dari panasnya sang api.
Karena niat yang tulus, api itu menjadi dingin dan tidak membakar kulitku. Api itu bahkan membuatku tenang dan damai dengan kehangatannya.

Hari berlalu, niat tulusku dan kedekatanku dengan Allah semakin pudar dan terlupa. Rupanya api itu melenakanku. Waktu demi waktu panasnya mulai melukaiku.

Teman-temanku kembali memberi peringatan keras. Tapi aku masih bergeming dan yakin bahwa api itu tidak akan melukaiku.

Aku benar-benar terlena. Untaian doaku semakin berkurang dan terlupa.
Kini api itu benar-benar membakarku luluh lantak. Aku terbakar. Aku terluka parah.
Allah, ampuni aku. KepadaMu aku kan kembali. Kupasrahkan hidupku padaMu.

-Fr. N-
Jkt, 19.10.2009

re-post

Izinkan Aku Mencaci

Ya Allah,,
ampuni hambaMu ini yang tak sempurna

Aku mencoba tenang
Tapi terus bergelombang

Aku mencoba diam tak bersuara
tapi hatiku begitu rusuh dan gaduh

Ku mencari kesejukan
tapi panas terus yang kurasa

Ya Allah,,
ampuni hambaMu ini yang tak sempurna

Aku ingat nasihat RasulMu dalam sebuah buku,
jangan marah jangan marah dan jangan marah

Aku mencoba ya Allah
Sungguh kucoba

Ya Allah,,
ampuni hambaMu ini yang tak sempurna

Aku ingin teriak
Aku ingin marah
Aku ingin mencaci

Maafkan dan izinkan aku ya Allah

Ku ingin lepaskan granatku
Ku ingin hempaskan badaiku
Ku ingin alirkan sungaiku

Agar semua kembali tenang
Agar semua kembali normal
Agar ku kembali menjadi aku

Allah,, izinkan aku mencaci..

-Fr. N-
17 mOktober 2009

re-Post dr FB

KUPU-KUPU dan BUNGA

Seekor kupu-kupu terbang mengepakkan sayapnya
Bebas kemanapun dia suka
Tidak terikat, ceria dan bahagia
Hinggap di bunga manapun yang dia inginkan
Bunga-bunga cantik nan indah yang terawat
Atau bunga-bunga yang tumbuh liar di pegunungan
Bernyanyi riang, menari dan bermain bersama
Mengecap madu manapun yang dia suka

Suatu waktu, dia terbang di atas pegunungan gersang
Tak ada pohon dan ilalang yang tumbuh
Hanya debu dan pasir

Ketika sudah lelah berputar-putar
Si kupu-kupu melihat ada satu bunga yang tumbuh di sana
Bunga yang aneh, liar dan sangat terasing
Kelopaknya begitu ramai penuh warna
Dari warna gelap hingga warna terang benderang
Benar-benar kontras dengan suasana sekitarnya
Membuat tampak angkuh dan arogan

Perlahan tapi pasti sang kupu-kupu datang mendekati
Mencoba menegur sapa dan mengumbar senyum penuh makna
Tapi sang bunga diam tanpa kata
Asik memandangi gunung yang kokoh menjulang

Nyanyian, rayuan coba dikeluarkan
Sang bunga tetap bergeming
Asik membelai kelopaknya yang berwarna merah
Mencoba menyingkirkan yang berwarna hitam

Dengan gigih sang kupu-kupu dapat mendekati
Perlahan tapi pasti kelopak bunga terbuka lebar menyambut

Bunga merasa nyaman dengan keberadaan kupu-kupu
Kupu-kupu pun senang dengan sang bunga
Janji demi janji, doa demi doa pun teruntai

Duri demi duri tumbuh di tubuh sang bunga
Kelopak hitamnya tumbuh kian banyak
Kupu-kupu terkejut
Merasa pengap, tecekik dan terikat

Kupu-kupu ingin tebang lagi
Membuat janji pada sang bunga jika ia akan kembali

Terbang, bebas dan lepas di udara
Bernyanyi dan bertemu banyak bunga yang rupawan
Kupu-kupu pun bingung
Akankah ia kembali pada sang bunga
Sementara di luar banyak bunga-bunga yang jauh lebih indah.


Jakarta, 14 okt 2009
-Fr. N-


re-post dr FB

LUKISAN UDARA

Kulukis mimpi di sana
Dengan berbagai warna yang indah
Ungu, biru hingga jingga
Segala yang kumau tersedia
Dari pangeran hingga istana
Kulukis dengan bahagia dan ceria
Tapi semua selalu tak bersisa
Hilang dalam hampa

Ups.. ternyata aku hanya melukis udara

-Fr.N-
Jkt, 28.08.09


***jangan pernah takut bermimpi kawan***


re-post dr My FB

SEBUAH KISAH

Hari itu kutertidur lelap sekal. Seperti biasa sebelumnya kupastikan rumahku sudah kukunci rapat. Lalu ada yang datang mengetuk-ngetuk minta dibukakan pintu .

“ Tak terima tamu. Mengganggu tidur saja!” usirku dan akupun tidur lelap kembali.

Esoknya datang lagi yang lain, mengetuk lebih kencang dan lantang. Aku tetap tak perduli tidurpun terus berlanjut. Gangguan terus datang lagi , lagi dan lagi semakin rusuh dan gaduh. Akupun tetap acuh.

Kemudian dia datang perlahan dan hati-hati, mengetuk halus pagar rumahku. Seperti biasa kucoba acuhkan. Tapi dia tidak pernah bosan, dating lagi dan lagi. Ah akhirnya kubuka pagar rumahku, cukuplah di teras saja, diapun tak akan tahan, pikirku.
Bukannya pergi karena kuacuhka, dia malah mencoba masuk ke dalam rumah.

“ Tak cukupkah hingga di teras?” tanyaku. “ aku tak akan bisa menemanimu. Sudahlah pergi saja!” bujukku halus.

Akupun terus berlalu meninggalkan dirinya. Namun rupanya dia tak menyerah, akhirnya akupun pasrah.

Kubuka rumahku lebar-lebar mempersilahkan dia singgah. Hanya singgah sesaat dan akhirnya diapun lelah. Begitu yang kuinginkan saat itu. Tapi dia tak hanya singgah melainan tinggal. Perlahan tapi pasti kunyaman dan terbiasa dengannya. Rumahku tak lagi sunyi. Senyap. Kini rumahku menjadi ceria dan penuh warna. Bunga-bungapun tumbuh bermekaran di taman. Hidupku benar-benar luar biasa kini.

“ Dimanakahku kini?”. Terkaget-kaget ku terbangun

Ups.. ternyata aku masih terduduk di ranjangku. Kutatap seisi kamarku, mencari pembuktian dan pembenaran atas semua peristiwa. Tapi semua tetap sama dan tak berubah. Akupun mulai nanar dan gelisah.

“ Mimpikah aku?” ratapku dalam gelap.

“ Ya Allah,, apalagikah ini?”, panikku mengaburkan logikaku. “jangan biarkan aku terbawa hanya dalam mimpi semu. Jadikan ini nyata kalau dia yang terbaik untukku.” doaku


-Fr. N-
Jkt, 28.08.09

re-post my FB

KISAH PUTIH

Datang dengan keluguan dan kesederhanaan
Mencoba bertahan dengan perbedaan
Dari hiruk pikuknya persamaan

Berbaur dengan aneka warna
Biru, ungu, merah, oranye, kelabu dan hitam
Tapi dia tetap menjadi putih
Dan terus ingin menjadi putih

Datang dengan kekuatan dan ketegaran
Terus melangkah dengan satu tujuan
Ingin mewarnai tanpa terwarnai

Langkah semakin berat terseret
Tujuan semakin serat tersendat
Godaan datang menghantam
Semakin pudar dan suram

Kini tak lagi putih
Kini tak lagi beda
Mulai ternodai
Mulai terwarnai

Mencoba membersihkan diri
Menghilangkan noda yang menempeli diri
Tapi tetap saja tak mau bersih

Kini tak lagi putih
Kini tak lagi indah
Putihnya telah ternoda
Noda yang mengatasnamakan cinta

Fr. N
Jkt, 14.08.09


re-post my FB

Kamis, 03 Desember 2009

S U N Y I

Sunyi...
Dia datang menemuiku saat itu
Mencumbuku dengan mesranya di tanah kering berpasir
Membelaiku diantara bebatuan rapuh lereng Semeru
Tak menghiraukan jurang-jurang yang menarikku masuk perangkap

Sunyi...
Membisikiku rayuan mesra
Masuk menerobos hatiku yang sedang kering haus dahaga
Merobohkan dinding-dindingnya yang sudah merapuh
Menghancurkan pagar-pagarnya yang mulai hancur dimakan karat

Sunyi...
Kucoba usir dirinya sejauh mungkin kubisa
Kuhangatkan diriku dengan lelehan si manis kegemaran para dewa
Meresapinya lumer hingga ke relung terdalam

Sunyi...
Terus saja merayu dan menggodaku
Membangkitkan hasratku akan dia yang disana
Memancing sang rindu berwujud dalam angan
Menghempaskan selimut kabut jatuh terjerembab

Sunyi...
Mengapa kau datang saat ini
Saat matahari bersinar dengan indahnya
Saat gunung-gunung menari dihamparan surgawi

Allah..
Jauhkan sunyi itu dari jiwaku

Allah...
Kuingin kehangatan yang datang menemuiku
Menemaniku dengan dirinya
Bercengkrama di kala senja
Merajut benang-benang kehidupan
Menari menyambut Fajar berseri..

dari atas lereng Semeru


-Fr.N-
04.08.2009

re-post dr FB

H A M P A

Hadir di sini tampak tegak berdiri
tegak kokoh diam bergeming
tampak keangkuhan dalam penampakan

hanya sebuah penampakan

jangan coba kau sentuh
karena rapuh dan mudah terjatuh

dalam tenangnya raga
terpendam gelisah jiwa

meraba dalam gelap
kebaradaan para sahabat
Nurani, Qolbu dan Rasa
yang terus menghilang dalam keruhya dunia

coba tegak berdiri
menentang kerasnya sang badai menerpa
rapuh, luruh dan jatuh jua lah akhirnya

hanya teronggok raga beku tanpa Qolbu
tak ubahnya robot kaku
yang bergerak tanpa rasa
tanpa jiwa tanpa cinta

-Fr.N-
Jkt, 30.06.09

re-post dr FB

SOK PUITIS

Kesepian..
gambaran pekerjaan terbayang
namun sulit dilakukan,
ada hambatan namun belum diruntuhkan,,,

Kerinduan..
angan melayang-layang bebas tanpa hambatan
mencari, meyusuri dari benak yang terdalam
terus menerobos tanpa tujuan mencari yang tersayang..

sedih
diam sendiri
merindukan kekasih
yang tak pernah datang tuk berbagi

cinta
mengundang banyak tanya
menjamu airmata
berbagi dengan nestapa

senyuman
kadang tulus
kadang kamuflase
hanya topeng belaka
penutup sang duka

benci
aaah apalah itu benci
rasa tak pantas tuk dihayati
hanya perasaan tuk merugi
sungguh tak berarti

cinta dan benci tipis berbeda
hanya yang kuat, bijak dan merendahlah yang mampu membeda

-N-
Jkt,, 26.06.09

hanya sebuah coretan yang mungkin tak bermakna tuk pembaca,,, hanya keluhan yang keluar diwaktu sepi dari sebiuah kerinduan..

re-post dr FB

L U K A

Allah...
Kuseret berat langkah ini membawa busuknya luka
berdarah benanah perih tak bertepi
Luka yang terus basah karena terus kusiram dengan cuka kehidupan

Allah...
Terseok-seok ku melangkah menujuMU
Menahan perih luka tak berperi
Menahan derasnya darah merembesi pori-pori kehidupan

Allah...
Jangan biarkan luka-luka ini terus basah dan membusuk
Menebarkan aroma bangkai ke seluruh penjuru

Allah...
Susah payah ku keringkan luka ini
Belumlah kering namun kini basah lagi
Semakin parah, dalam dan bau saja luka ini
Basah kuguyur dengan sesuatu yang kupikir madu
Madu yang bisa jadi obat dari luka-luka ini
Tapi justru hanya kamuflase dari pahitnya sang racun

Allah...
Kuseret luka-luka yang semakin berat kupikul
Yang entah kapn bisa kukeringkan
Yang aromanya saja bisa membunuh lalat-lalat yang hinggap
Yang perihnya tak berperi

Allah...
Kuseret berat luka-lukaku
Mengharap madu sebagai penawar luka
Madu benar-benar madu, bukan lagi kamuflase
Madu yang manisnya memaniskan dunia..

-N-
14.06.08

re-post dr FB

wanita dan mimpi-mimpinya

Aku bertemu dia di pinggir pantai berapa tahun yang lalu, wajahnya menatap perahu nelayan yang tengah bersandar. Kudekati dan kusapa dirinya, apa yang dia pikirkan hingga wajahnya tenang. Lalu dia tersenyum dan berkata

" aku bermimpi, aku menyebrangi lautan ini. Aku melaut ke laut lepas, berlabuh di Italia, berkano di Venesia, memandangi keindahan kota yang begitu indah itu". jawabnya

Aku hanya tersenyum mendengar ceritanya, dan dia melanjutkan ceritanya.

" Syukur-syukur punya kesempatan menonton Alexandro del Piero bertanding. Kemudian aku mampir ke negerinya paman Hitler, berjumpa dengan Goethe dan Schiler, dan berpose di serpihan tembok Berlin. atau mungkin saja aku bermain dengan ayam, anjing, kucing dan kuda yang terkenal dari Bremen itu, tahukan?" tanyanya

" ya." jawabku.

" setelah lelah aku kan singgah sejenak di kota yang kata orang kota romantis, kota Paris. berpose di menara Eifel, maklum aku kan narsis, hahahaha" ujarnya sambil tertawa.

" Kemudian apa yang akan kau lalukan setelah melakukan perjalanan itu?" tanyaku

" Bangun, mandi dan berangkat kerja.. hehehehe.. kan cuma mimpi." ujarnya sembari berlari-lari di sepanjang panatai itu.

kamipun berpisah begitu saja.

" Semoga mimpimu terkabul wahai teman." doaku tulus

Beberapa bulan lalu kami bertemu kembali, di gunung tertinggi di Jawa tengah. Tapi kali ini dia yang menegurku dengan keceriaan yang masih tetap sama seperti dulu.

" Hallo teman, masih ingat aku? sapanya

" Tentu saja. Masih bermimpi melaut?" tanyaku

" Hahaha. tidak." ujarnya. " aku ingin tinggal di desa aja

" Kenapa? mimpi lagi?"

" Tidak, ini nyata. Aku tidak ingin melaut lagi. Aku hanya ingin hidup tenang dan damai di sebuah desa yang hijau dan asri. Aku bosan dengan kehidupan di kota besar, penuh polusi dan kamuflase. Aku ingin berkebun dan bertani. Aku ingin membesarkan anak-anakku kelak dengan kehidupan nyata, bukan tipuan dan penuh intrik." ceritanya dengan mata berbinar-binar penuh kebahagian.

Aku tertawa terbahak-bahak mendengar ceritanya. " Sungguh?, kamu seorang gadis yang terbiasa hidup serba enak, instan dan selalu dapat apa yang kau mau. Apa kamu bisa hidup mandiri di desa?, kamu biasa menghambur-hamburkan uangmu untuk barang-barang yang tak jelas, apa kamu bisa hidup sederhana?" tanyaku menatap mata sipitnya.

Mendengar pertanyaanku yang meremehkannya, dia hanya tersenyum.

" Yups. Aku sungguh-sungguh. Aku akan berjuang keras untuk mewujudkannya. Aku tidak ingin ini hanya mimpi sesaat. Aku harus semangat!" dia tersenyum manis dan lagi-lagi berlari turun meninggalkanku di belakang.

Aku hampir saja tidak mengenalinya ketika aku melihatnya kemarin di sebuah jembatan, menatap kali yang keruh warnanya.

" Hai. Ada apa kau termenung di tempat seperti ini. Tempat yang sangat berbeda dari tempat-tempat kita bertemu biasanya. tempat yang jauh dari keindahan."

Dia diam saja. Cahaya matanya begitu redup. Aku merindukan tatapan anak-anaknya.

Kemudian dia menunjukkan keningnya yang luka berdarah.

" Wow! kenapa dengan keningmu? sangat dalam sekali lukanya!

" Aku jatuh dan terantuk, semua yang kuceritakan padamu beberapa bulan lalu ternyata hanya mimpi. Ketika aku tersadar, aku ada dipinggir jurang, sehingga kepalaku terantuk batu yang sangat tajam. Darahnya tak mau berhenti. Begitu perih rasanya. Aku tak ingin lagi bermimpi."

" Kenapa? kata orang kesuksesan itu berawal dari mimpi loh."

" Kalo hingga mengalirkan darah dan berasa sangat pedih begini, rasanya aku jera.. kapooook."

" Lalu?"

" Aku ingin menjadi seperti air di kali ini saja, terus mengalir dengan tenang. Biar saja semua berjalan seperti adanya."

" oh ya? yakin?" Lalu aku menunjukkan sesuatu di kali itu. Tumpukan sampah yang menghambat jalannya air.

" yaaaaa.. tidak mau ah kalo harus berurusan dengan sampah yang bau ini. Dasar orang kota jorok-jorok buang samapah kok di kali. uugh!"

" Wahahahahaha" kamipun tertawa terbahak-bahak

ya Allah jangan buat kami jera untuk bermimpi dan mengejar mimpi kami. Amin


-Fr.N-
Jkt, 19 Okt 2009

re-Post dr FB

Bimbang

Langit semakin gelap dan pekat
tanpa bintang tanpa rembulan
semakin remuk redam terasa
berat pun menggantung di pelupuk mata

ketika tanya semakin dekat
semakin resah hati mencekat
semakin ingin jauh berlari
semakin berat melangkah

ya Allah...
dimana jalan itu
dimana pintu itu
dimana jawab itu

aku lelah
aku bosan
aku hampa

sungguh aku tak ingin lagi tersesat
sungguh aku tak ingin lagi terperangkap

aku ingin bintang
aku ingin bulan
aku ingin cahaya

tuk menemukan jalan itu
agar dapat ku temukan sang jawab..

-N-
Maret,09

re-Post dr My FB

Sehnsucht

dalam diamku kulihat wajahmu
sejelas kurasa matahari membakar kulitku
tak dapat kusentuh
tapi dapat kurasakan hadirmu

pengaruhmu sungguh dalam berbekas
seperti halnya matahari yang meninggalkan hitam
dapat menghangatkan dan menyinari
namun teriknya bisa sungguh menyakitkan

sejauh ku berlari
sejauh itu pula kau hadir untukku
sejauh itu pula kubutuh dirimu

wahai cinta

tetaplah hadir untukku
menemaniku sepanjang waktu
sehingga bunga-bunga terus tersenyum padaku
burung-burung pun bernyanyi untukku
dan matahari berasa hangat di kulitku..

-N-
25.04.09

re-post dr my FB

ich hasse dich

ich hassse dich,denn
ich kann nicht gut Schlafen
ich kann nicht schmechtes Essen geniessen
ich kann nicht mein Buch lesen

ich hasse dich,denn
ich moechte nuer ueber dich sprechen
ich moechte immer deine Stimme hoeren
ich mochte immer mein Handy umfassen

ich hasse dich sehr
ich traeume auf dich immer
ich vermisse dich sehr
ich wuensche dir

ich hasse dich
ich weiss nicht fast alle ueber dich
du weisst fast alle ueber mich

ja, ich hasse dich
denn ich liebe dich

23 Februari 2009
re-post dr FB

Frei



ingin ku terbang
bebas melayang
tanpa larangan
tanpa cacian
tanpa keraguan
tanpa batasan
dengan yang tersayang


18.02.2009
re-post dr notiz Fb

Rabu, 02 Desember 2009

Pendakian Selamet, sebuah kisah dibalik yang pertama

Gunung Slamet, gunung tertinggi di Jawa tengah yang mempunyai ketinggian 3432m ini sebenarnya bukanlah gunung pertama yang kudaki. Ini adalah pendakian yang kedua setelah aku vakum hampir tiga tahun setelah pendakian pertamaku di gunung gede pada 21 April 2006 lalu. Walau yang kedua, tapi di atas gunung inilah awal aku mengukir sebuah kisah yang akan menjadi kisah luar biasa dalam hidupku. Kisah pertama dalam hidupku yang penuh warna dan penuh rasa.

Tanggal 16-18 Januari 2009, aku bersama sahabatku Siti Fatimah (Imeh), wanita perkasa dan tangguh yang ku kenal dan menjadi rekan setimku pada saat pendakian kartini tiga tahun lalu, melakukan pendakian ke Gunung Selamet bersama FKPAB (Forum Komunikasi Pecinta Alam Brebes). Info ini kami dapatkan dari Jabar atau Jabrix, seorang teman yang kami kenal saat napak tilas di Kendal. Salah satu yang menyenangkan dari perjalanan seperti ini adalah akan mengenal banyak teman-teman baru yang akan mengantarkan pada petualangan-petualangan baru, dan tentu saja teman-teman baru lagi. Banyak teman banyak saudara… yippiii

Setelah siap dengan perlengkapan yang hampir seluruhnya hasil pinjaman, maklum sebelumnya ngga pernah mikirin perlengkapan beginian hehehehe… danke ya Ade, yang bersedia meminjamkan SB n matrasnya …

Aku berangkat dari stasiun Jatinegara dengan Jabrix, setelah banyak membuat orang tersenyum karena cewe imut kok manggulin tas segede itu… dan bertemu dengan imeh dan babeh di stasiun cikampek.. yeaaaa siap euy!

Sesampainya di Brebes, di tempat start, ku terkejut dengan kenyataan yang ada.. hampir semua pendaki yang ikut serta, ternyata bukan pendaki amatiran. Mereka adalah pendaki-pendaki asal Brebes yang dikumpulkan kembali. Jiaaah gawat nih! Bisa-bisa aku jadi yang ternyusahin neh…

Yang penting nekaaaaad!!!

Rute yang kami tempuh yaitu rute Kaligoa, konon katanya ini bukan jalur umum pendakian, karena treknya yang lumayan berat dan sulit dijangkau. Hmmm… mantab bener untuk pemula kaya aku…

Setelah sempat ganti truk, akhirnya kami tiba di puncak syakub. Pemandangan luar biasa menyambut kami. Sejauh mata memandang hanya ada perbukitan hijau… menyegarkan mata… Subhanallah!

Setelah berjalan beberapa jam ditemani hujan yang terus mengguyur, kami mendirikan tenda di sepanjang jalur,. Baru kali ini ngecamp kok masih sore, pikirku. Ternyata hanya itu tempat yang memungkinkan untuk memasang tenda, karena tempat perhentian berikutnya membutuhkan beberapa jam lagi perjalanan dengan medan yang cukup berat, sehingga akan beresiko bila diteruskan.

Ternyata tempat yang kami singgahi malam itu, menurut sang kuncen, merupakan salah satu tempat yang cukup keramat. Beberapa puluh meter dari sana ada tempat yang bernama “sumur pengantin”, tempat yang sering dikunjungi untuk melakukan “ritual-ritual” tertentu baik untuk mencari jodoh, atau untuk mendapatkan harta dengan mudah, (Naudzubillah…). Karena itulah tempat itu menjadi tempat kegemaran para makhluk laknatullah.

Binatang liar pun masih suka berkeliaran di sana. Beberapa teman melihat babi hutan tidur. Bahkan salah satu teman, konon katanya dikunjugi sepasang macan (katanya sih bukan macan sungguhan,, so….) grrrr.. iiih serem… tapi karena berita ini saya dengar dari mulut ke mulut bukan langsung dari yang bersangkutan, jadi ya entahlah kebenarannya… untung selama bermalam aku tidak tahu, coba kalau tahu.. uuuh bisa-bisa tidak kemana-mana deh,, ngumpet di tenda. hahahaha

Sampai malam pertama ini, semua masih baik-baik saja, walau kepayahan dengan beban dan medannya.. ssssttt.. bocoran neh, karena para teman-teman begitu baik hatinya, mereka tidak mengizinkan aku membawa carrier aku itu loh,, hehehehe. Ngedaki apa jalan-jalan neng.. tapi sungguh itu bukan kemauan aku.. (walau seneng ^_^)

Jalanan semakin curam dan berat, terus menanjak dan basah karena hujan. Alhamdulillah walau basah kuyup begitu sampai juga di camp kedua. Disinilah kami merasakan semakin kenal satu dengan yang lain. Makan bersama, api unggun bareng.. malam yang “hangat”. Terutama dengan kelompok Guriztpala, kelompok gila yang kerjanya ngegurizin makanan orang,. Serta kelompoknya icos, arif, mas’ud (yang mengikhlaskan sarungnya untuk aku), yang entah di mana kalian, yang hobi banget ngecengin aku, yang sempat juga terkaget-kaget melihat betapa bodohnya perempuan yang satu ini masak, tapi tetep aja masakan aku dimakan hehehehe..

Hujan tidak mau berhenti jua, bahkan semakin deras. Hingga akhirnya rencana naik ke puncak dibatalkan panitia.. uuugh Bt!!

Tapi karena melihat guriztpala nekad ngeluyur terus menaiki puncak, aku dan imeh nekad juga menyusul. Tapiiii bodohnya, aku pakai sandal jepit. Berdiri aja sering engga seimbang, menaiki lereng seterjal, basah dan licin kok pakai sandal jepit.. tapi untung ada yang bersedia menuntun naik dan turun .. berasa nenek jompo hihihihi… tapi karena badainya tidak mereda, kami hanya bisa berfose manis di lerengnya.. hiks.. mudah-mudahan akan ada kesempatan lain untuk bisa nangkring di puncak sana.. amin.

Perjalanan turun ternyata tidak juga mudah.. karena merasa paling amatir, saran dan nasehat teman aku terima, termasuk melepaskan sepatuku yang dianggap licin dan menyusahkan jalan. Tindakan bodooooh yang akhirnya memperburuk keadaan… dan inilah yang menjadi awal kisah warna-warni hidupku berikutnya.

Susah payah menuruni curamnya jalan basah tanpa alas kaki, setelah sandal jepit pun tak sanggup dan menyerah sedangkan sepatuku dibawa lari sang pemberi saran.. aarggh… wandas gilaaa

Gedubrak… gabruk… jatuh bangun, sampai tak tahu lagi apa yang ada dipikiranku saat itu.. ditambah lagi beban carrierku yang semakin berasa berat. Teman-teman menawarkan bantuannya padaku, tapi mana seru kegunung tidak bawa carrier.. apalagi waktu naik sudah dibawakan. Punggung dan kakiku sudah berasa kebas karena terlalu sering jatuh. Uugh tapi semangatku tak pupus.

Tiba-tiba ada satu sosok jelek dan aneh yang memaksaku untuk melepas carrierku. Seperti dengan yang lain , aku pun menolaknya. Tapi dasar keras kepala, dia malah ngomel-ngomel. Akhirnya dengan kesal kuberikan saja.. ugh.. ditolong kok malah berasa kesal yaks.

Sepanjang perjalanan turun aku bersama si jelex dan temannya. Walau kesal, tapi berasa aman karena ada dua bodyguard yang mendampingi.. wahahaha

Selesai pendakian, aku, imeh dan babeh mampir menyempatkan diri untuk menikmati kota Brebes.

Gunung Slamet inilah yang menjadi saksi perjumpaanku dengan seseorang yang menjadi pertama. Yang pertama berhasil mendobrak keangkuhan kewanitaanku, yang pertama membuatku yakin akan sesuatu, yang pertama berhasil mewarnai hidupku dari warna pelangi hingga warna hitam pekat, yang pertama berhasil membuatku sibuk bertanya dengan resep-resep masakan rumah, walau belajar mah belum juga ^_^, yang pertama membuatku sadar kalau aku tetaplah wanita, yang pertama membuatku mengukir namanya di salah satu puncak gunung di Indonesia, yang pertama membuatku berani bermimpi walau akhirnya direnggutnya kembali, yang membuatku mencoba berhenti untuk tidak kebut-kebutan lagi walau sekarang gelonya kambuh lagi, yang pertama membuatku berani mengatakan aku sayang padamu, yang pertama mengukirkan luka yang perihnya entah kapan ditemukan obatnya (mudah2an ini juga yang terakhir)… yang pertama membuatku berharap yang pertama yang terakhir.

Slamet yang masih ingin kudaki karena belum kutemui puncaknya. Terimakasih ya Allah telah menjadikan Slamet menjadi bagian dari kisah hidupku.



GALERI FOTO


di puncak syakub


dengan wong Brebes


dengan imeh dan babeh



Selasa, 01 Desember 2009

Senandung Rindu

Senandung rindu tercipta untuk dia yang terkasih
Yang telah membangkitkan raga sang dara
Yang melukiskan awan di hati sang perawan
Yang menorehkan luka dalam menganga, satu lubang tanpa dasar
Yang menghembuskan nafas cinta dari pucuk ubun-ubunku
Lalu menariknya kembali dalam satu tarikan panjang melalui jantungku

Senandung rindu ku persembahkan untuk dia
Yang melukiskan ribuan pelangi
Yang menaburkan jutaan bintang
Yang menyenandungkan puisi-puisi cinta karya para pujangga
Yang menorehkan ukiran-ukiran mimpi
Yang menggoreskan pahatan-pahatan kasar di atas kanvas tak berwarna
Serta menjatuhkan awan hitam tanpa hujan

Senandung rindu tercipta untuk dia yang terkasih
Sebagai pengingat akan sebuah kisah
Sebagai penaut antara dua kasih
Sebagai bukti, sayap-sayapku tak patah juga rapuh

Senandung rindu mengepakkan sayap-sayapku terbang tinggi
Membentang luas siap menyanggamu wahai jiwa yang letih

Wahai jiwa yang haus dan rapuh
Aku di sini dan masih tetap di sini
Menyerahkan bahuku untuk kau sandari
Menyerahkan hatiku untuk kau huni
Ketika akhirnya kau lelah berkelana
Ketika akhirnya kau tersandung perih
Ketika kau tersadar dan merindukan damai

Wahai cinta…
Aku masih di sini menyenandungkan Senandung Rindu untukmu

-Fr. N-
29 November 2009,
dari atas mioku dalam perjalanan bogor-priuk yang panjang dan meletihkan.


Jumat, 27 November 2009

Kepakan Sayap-Sayap Florian (Ende)

       “ Mimi… Jamal… Assalamualaikum! Buka pintu donk!” Teriak Florian riang. 

       “ Walaikumsalam.. sabar bentar!” Sahut Mimi yang datang tergopoh-gopoh dengan perut buncitnya., “Wuits.. siapa nih pagi-pagi dah namu? Dekil banget lagi! Ke Semeru lagi Flo?” 

       “ yo a!” Jawab Florian yang langsung merebahkan dirinya di teras.
Mimi menatap sahabatnya lekat-lekat. Kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan mengenai kelakuan Florian yang menurutnya sudah diambang batas logikanya. Dia begitu mengkhawatirkannya.

       “ Masya Allah, mo sampai kapan kamu terus begini Flo? menunggu sesuatu yang ngga jelas, abstrak? Cowo model begitu kok masih aja diharap, heran aku! Emang hati kamu terbuat dari apa sih bu? Engga sakit apa dia ngelakuin kamu kaya gitu? Udah tujuh tahun Flo! Belum tentu kaulnya dia ke semeru di tanggal itu kesampaian!” Omel Mimi

       “ Duh pagi-pagi udah ngomel-ngomel sih bu! Kasihan tuh dedenya, entar ketularan setress kayanya nyokapnya lagi.” Jawab Florian santai
Mendengar keributan di luar, Jamal segera keluar melerai.

        “ Ngomelnya entar dulu bun, suruh dia istirahat dulu.” Ujar Jamal. “ Istirahat di dalam gih Flo! Mandi dulu, terus makan… Mimi habis masak soto kesukaan kamu tuh. Dia udah ngeduga kamu bakal ke sini, seperti tahun-tahun sebelumnya.”

       “ Waduh.. thanks bru! kalian bedua mang sahabatku yang paling ok.” Jawab Flo riang yang langsung berlari ke dalam. 

Melihat keriangan Florian yang tidak seperti biasanya, keduanya bertatapan penuh tanda tanya.

       “ Ya Allah… Ada apa dengan nih anak ya? Ceria banget, ngga seperti sebelum-sebelumnya. Mudah-mudahan ada kabar baik!” harap Mimi. Perasaannya sedikit membaik melihat keriangan sahabatnya itu.

       “ Ngadepin dia jangan keras Bun! kamu kan tahu dia tuh ibarat keong, keras di luar doang, rapuh didalam. Lukanya bertahun-tahun masih belum sembuh juga.”

       “ Iya sih. Cuma aku khawatir banget mas! Udah tujuh tahun dia begini terus. Padahal orang yang dinantinya, didoainnya sepanjang waktu tak pernah tahu. Kalaupun tahu juga aku yakin dia tidak perduli.” Ujar Mimi berkaca-kaca.

       “ Allah itu Maha Tahu Bun! Dia itu mendengarkan doa hamba-hambanya. Kamu lihat dia riang sekali kan? Nanti kalau dia udah istirahat dan seger, baru deh kamu ngobrol baik-baik.”
Aku ingin menjadi setitik awan kecil di langit, bersama mentari… biar pun ku sendiri tapi aku masih ada, masih ada cinta di hati. Terdengar Florian bernyanyi riang di dalam kamar.

***

Di tatapnya langit-langit kamar. Beberapa tahun terakhir ini dia selalu mengunjungi tempat ini, rumah sahabatnya Mimi dan Jamal, sepulang pendakiannya ke Semeru. Hanya kepada merekalah dia bisa mengeluarkan segala keresahannya, walau dia tahu, mereka tidak selalu sejalan dengannya. Mereka yang terus berusaha membangkitkannya disaat dirinya terpuruk.

        “ Ya Allah… Kumohon selalu jaga hati mereka. Limpahi mereka dengan kasih sayangMu. Begitupun dengan Satrio ya Allah… jangan biarkan dia kembali ke dalam kegelapan. Selalu limpahi cinta di hati dia dan istrinya.” Doanya tulus

Perutnya sudah bernyanyi-nyanyi riang mendesaknya ke ruang makan, dimana Mimi dan Jamal sudah menunggunya.

        “ Wangi bener neh sotonya, yakin deh pasti rasanya maknyus.”

        “ Iya donk. Siapa dulu yang masak?” Sahut Mimi

        “ Iya deh… Koki hutan. Siapapun yang kenal Mimi, sang pendekar gunung pasti tahu juga kehebatan masakannya.” Puji Flo yang langsung menyantap Soto hangatnya.

Melihat Florian makan dengan lahapnya, Jamal dan Mimi bertanya-tanya dalam hati, apa yang terjadi dengan sabahat mereka itu. Sudah tujuh tahun mereka tidak melihat Florian seriang dan seceria ini. Matanya yang bundar terlihat bersinar-sinar karena senang.

        “ Bahagia bener neh yang baru turun gunung!” Sindir Jamal

        “ Ada cowo ganteng ya Flo?” Timpal Mimi

        “ Cowo ganteng? Engga tahu dehw, banyak sih cowo di sana, tapi engga ada yang istimewa ah tampangnya. Lagian boro-boro merhatiin mereka, bawa carrier aja rasanya kok makin berat aja. Faktor u kali ya?”

        “ Faktor u ya? Sadar juga ya sama si u? kirain udah ngga ngitungin lagi… bulan depan kamu ultah kan ya Flo?” Seloroh Jamal

        “ yaa.. mulai deh! Salah ngomong nih aku! Mang kenapa kalo aku bulan depan ultah?” Florian menatap Jamal.

        “ Engga kenapa-napa. Ngingetin doank, siapa tahu ada yang mo neraktir si dede.” Canda Jamal sambil ngelus-ngelus perut istrinya

Khawatir Florian kehilangan nafsu makannya, Mimi mencoba mengalihkan pembicaraan. 

         “ Perkiraan dokter, aku melahirkan bulan depan Flo. Sampai sekarang kita belum punya nama nih, ada ide ngga? Cewe Flo.”

         “ Kalo Nazihah gimana? Kalo ngga salah artinya yang terlindungi dan terjaga dari hal-hal yang buruk.”

        “ Entar dipanggilnya Nazi lagi sama teman-temannya. Duh serem banget tuh.” Canda Jamal

        “ yaaa… ada-ada aja deh mikirnya. Dibiasain dari kecil dipanggil Nazihah jangan disingkat-singkat. Jadi akan banyak orang yang ngedoain dia dengan memanggil namanya lengkap. Kalo engga suka ya udah, nanti aku cari yang lain. Tanggal berapa perkiraan dokter?“

        “ Bagus kok Flo, buat referensi dulu. Tanggal 15, tapi itu kan cuma prediksi aja. Semua sih sudah disiapin. Jadi mudah-mudahan lancar semua.” Sahut Mimi

        “ Wah senangnya… samaan donk ultahnya ma aku. Jangan-jangan kalian tuh ngefans ya sama aku, sampai buat anak aja direncanain lahirnya hahahahaha…”

        “ Yee geer aja kau! Justru itu yang bikin kita sedikit khawatir, nanti keras kepalanya, ngeselinnya dan nekadnya ngikutin juga lagi. Ugh…!” Jawab Jamal.
Begitu Florian selesai makan, dengan hati-hati Mimi melanjutkan kembali percakapan sebelumnya. Dia merasa sudah waktunya Florian berhenti memikirkan mantan kekasihnya yang menurutnya tidak tidak tahu bersyukur itu. 

        “ Udah lama nih ngga lihat tante Flo makan kaya tadi, coba kalo tiap hari kaya gitu, ngga cungkring lagi deh tante… Apalagi kalo udah pulang dari Semeru, biasanya nih tante cuma tiduran doang di kamar. Seneng deh ngelihat tante Flo kaya gini.” Canda Mimi

        “ Iya nih tante, cerita dong ada apaan?” Sambung Jamal

        “ Sang kodok kawin, udah ketemu betinanya.” Jawab Florian santai sembari menghirup kopinya dalam-dalam.

        “ Apaan Flo?” Tanya Mimi dan Jamal kompak

        “ iya… Kupu-Kupu itu udah ketemu bunganya, mudah-mudahan dia tidak akan pernah mencari bunga yang lain.” 

        “ Tadi kodok sekarang kupu-kupu, maksud kamu cowo dodol itu?” Tanya Jamal gusar

        “ Satrio Flo?” Tanya Mimi, “ Kamu beneran ketemu dia di sana?

        “ Yups! Kami bertemu di puncak Mahameru. Tepat tanggal 15 kemarin, seperti yang pernah dia katakan, kalo dia akan datang ke sana pada tanggal itu. Dan dia juga datang bersama istrinya.”

Melihat reaksi Florian yang justru terlihat bahagia, Mimi dan Jamal hanya saling pandang tak mengerti. Mereka tidak mengerti jalan pikiran Florian. Mereka tahu perjalanannya ke Semeru tujuh tahun ini untuk menantikan Satrio, lelaki yang telah mengkhianati dan sangat melukai hatinya. Suatu tindakan yang menurut mereka bodoh dan sia-sia. Tetapi mengapa dia bisa begitu bahagia ketika pria itu justru menikah.

        “ Kamu baik-baik aja Flo?” Tanya jamal bingung

        “ Ya tentu saja. Tidak pernah lebih baik dari ini!” Jawab Flo, “ Oh ya, istrinya manis banget loh… tenang ngga petakilan kaya aku, sepertinya sholehah. Bisa aja satrio dapat istri sebagus itu. jadi lega deh!”

Mimi menatap wajah florian dalam-dalam, mencoba mencari sesuatu yang mungkin Flo sembunyikan darinya, tapi dia tidak menemukan apa-apa. Wajah Florian terlihat tulus tidak dibuat-buat. Dia benar-benar terlihat bahagia.

        “ Ke teras aja yuks! Gerah nih.” Florian melangkah ke luar

        “ Sebenarnya apa sih yang kamu cari Flo?” Mimi mengikutinya di belakang.

        “ Maksud?”

        “ Tujuan kamu ke Semeru? Kenapa kamu begitu senangnya melihat Satrio dengan istrinya? Bukankah kamu menantikan dia?”

Florian menatap taman mini di depannya, “ Pohon cabe kalau buahnya sudah memerah begini, jadi indah di lihat ya?” ditarik nafasnya dalam-dalam.

        “ Kehilangan itu memang pedih Mi. tapi ternyata lebih pedih begitu melihat kekasih hati kita semakin terpuruk jatuh ke dalam lubang gelap tanpa dasar. Awalnya aku memang sakit hati, sakit luar biasa. Dunia berasa gelap dan menjauh. Bangunan yang sudah dibangun tiba-tiba rubuh di depan mata. Seperti anak kecil yang lagi asyik-asyiknya menikmati manisnya lollipop, tiba-tiba tuh lollipop jatuh ketanah. Nyeseeek banget!”

 Mereka terdiam sesaat, sibuk dengan pikirannya masing-masing.

        “ Seperti yang kau tahu, aku sempat merasa jatuh terpuruk. Naik turun gunung, menjelajahi hutan, nyelem dan berenang di pantai, tapi semua itu tak bisa kunikmati karena aku hanya berlari dan terus berlari dari rasa sakit. Sakit tak sembuh tapi justru kesehatanku menurun drastis, pekerjaanku hancur, emosi meningkat. Depresi terberat yang pernah kurasa. Aaah malu sekali rasanya kalau ku ingat itu semua.” Florian berjalan ke dapur.

Florian datang kembali dengan membawa satu teko kecil kopi panas. 

        “ Udah cukup Flo! Kasihan lambungmu. Maghmu sudah kronis. Emang kamu engga cape apa nembak-nembak melulu karena lambung kamu perih?”

        “ Pusing kalo ngga ngopi Mi.” Florian semakin kecanduan kopi semenjak insomnianya semakin parah. “ Lagian maghku kambuh tuh kalo aku depresi berat, kalo aku lagi seneng begini mah kopi ngga ngaruh.”

        “ Iya makanya kamu semakin sulit tidur, semakin banyak kopi.”

Florian memenuhi cangkirnya kembali dan melanjutkan ceritanya. “ Seperti yang kau tahulah Mi, aku sempat pindah ke Jogja, tapi tetap saja aku tak bisa tenang karena aku terus bermimpi tentang dia. Karena pada dasarnya penyakitku ada di hati, kemanapun aku lari sembunyi jika aku tak ngobatin ya akan terus sakit. Pada saat itu aku sulit menerima kelakuan dia. Rasa marah, kekecewaan, sakit hati dan cinta itu becampur baur, tetapi tak bisa aku keluarkan sehingga rasanya menyiksa banget. Namun pada suatu siang ketika aku berjalan-jalan ke simpang lima Semarang, ketika sedang menikmati sego pecel, tiba –tiba ada keributan karena ada remaja mengamuk dan marah-marah akibat minuman keras. Semua orang mengutuk anak itu, mencaci maki dan segala doa keburukan terucapkan. Namun ibu penjual sego itu malah berdoa supaya Allah selalu melindungi anak itu.” Florian menelan ludah. 

       “ Kemudian ibu itu menjelaskan kepadaku tentang kekuatan doa. Allah itu maha pendengar doa dari hamba-hambanya. Setiap ucapan kasar, sumpah serapah bisa jadi dikabulkan oleh Allah. Kalau semua ucapan kasar yang tadi kami dengar dikabulkan, bagaimana dengan nasib anak itu. Padahal kita tidak tahu apa yang terjadi dan menyebabkan anak itu berperilaku seperti itu. Bisa jadi dunia itu terlalu keras untuknya sehingga dia pun terbentuk menjadi keras. Atau mungkin saja banyak kemalangan hidup yang membuatnya ingin berlari sehingga dia melarikan diri dalam minuman. Dan banyak alasan lain yang ibu itu ungkapkan kepadaku. Pada intinya menurut si ibu, tidak semua orang mendapatkan keberuntungan dan kemudahan dalam hidup, tidak semua orang mendapatkan hidayah dan petunjuk dari Allah. Oleh karena itu kita yang merasa diri kita itu orang baik, orang bermoral dan orang beragama mengapa justru mencaci mereka yang sedang salah arah itu. Doakanlah mereka supaya diberi petunjuk oleh Allah. Semakin banyak yang mendoakan kebaikan, maka akan ada kebaikan untuk anak tadi. Semakin banyak yang menjadi baik, semakin berkurang pula yang meresahkan masyarakat bukan.” Florian menatap cangkir kopinya yang sudah kosong lagi.

       “ Hubungan dengan Satrio? Mengapa harus Mahameru? Mengapa harus setiap tanggal 15 Oktober?” Mimi menggaruk kepalanya yang tidak berasa gatal.

       “ Sepanjang perjalanan balik ke Jogja aku terus memikirkan kata-kata ibu itu kepadaku. Apa iya doa bisa merubah orang, apa pria seberengsek Satrio bisa berubah…” Florian menarik napasnya dalam-dalam.

       “ Malamnya aku bermimpi lagi, wajahnya gelap banget dan air matanya menetes. Aku tanya dia tidak menjawab. Melihat dia seperti itu, semua kemarahanku menguap. Ternyata aku tidak bisa melihat dia bersedih seperti itu. Walaupun dia begitu jahatnya, tetapi aku masih begitu menyayanginya. Aku benar-benar berharap dia berubah.”

       “ Kamu masih menginginkan dia?” Jamal datang membawakan donat coklat kegemarannya.

Florian diam menatap mawar putih yang mulai bermekaran. Beberapa tahun lalu dia yang membawakan bibit dan menanamnya sendiri di sana sebagai hadiah pernikahan Mimi dan Jamal. Dia dan Mimi merupakan penggemar Mawar putih.

       “ Aaah… Selama dia bersamaku dia tidak berubah. Jadi memang aku bukan yang terbaik untuk dia. Aku menginginkan dia mendapat yang lebih baik dari aku.” Mata Florian berkaca-kaca

       “ Aku terus berdoa untuk dia, supaya dia ketemu bidadari di bumi. Wanita yang tidak hanya cantik rupanya tetapi cantik hatinya. Wanita yang bisa mengarahkan dia ke arah yang benar. Demi Allah, aku benar-benar berharap Allah selalu melimpahkan hidayah padanya. Aku tidak ingin ada wanita lain yang menangis dan bermimpi buruk terus karena dia. Aku tidak ingin bertambah sumpah serapah untuknya.”

       “ Mahameru? 15 Oktober?” tanya Jamal.

       “ Hmm… aku menantinya di sana. Aku bodoh ya?” Florian memeluk ledua kakinya.

       “ loh katanya kamu engga ingin dia lagi?” tanya Mimi heran

        “ Aku berharap bisa berjumpa dengan dia dan bidadarinya di sana.”
Jamal dan Mimi menggelengkan kepala tidak mengerti.

        “ Dulu banget Satrio pernah mengatakan kepadaku, jika dia hanya ingin ke Semeru bila dia sudah menikah. Dia ingin merayakan ulang tahunnya di sana bersama istrinya. Jadi mungkin jika doaku dikabukan, dia bertemu wanita yang bisa meluluhkan hatinya dan mereka menikah, dia akan melaksanakan niatnya. Berbulan madu di Semeru.” Florian tersenyum

        “ Astaghfirullah Flo…!” Mimi memegangi kepalanya yang berasa berat.

        “ Aku bertemu mereka di sana. Doaku terkabul Mi. Tujuh tahun penantianku, Allah mengabulkannya. Hmm.. aku benar-benar menyukai angka tujuh.”

        “ Ya ampun Flo… aku ngga ngerti jalan pikiran kamu. Aku setuju dan mengerti prinsip tentang doa yang kamu jelaskan tadi. Aku setuju karena ketika kita mendoakan kebaikan untuk orang lain, Allah akan memberikan kebaikan untuk kita juga. Tapi... engga perlu harus segitunya Flo! Menanti bertahun-tahun hanya untuk melihat dia menikah. Apalagi hingga menanti di puncak Mahameru. Menanti dalam kesendirian, menanti sesuatu yang masih abstrak. Melihat mereka berdua, melihat dia sudah bahagia sedangkan kamu masih sendiri menunggu, apa kamu tidak sakit?” Mimi terharu memandang wajah sahabatnya.

Florian tersenyum cerah, “ aku bahagia. Sangat bahagia hingga rasanya berasa ringan sekali tubuh ini.”

        “ Kamu engga ngerasa ngebuang-buang waktu Flo?” Tanya Jamal

        “ Engga! Jika harus menunggu hingga sepuluh tahun pun aku rela, jika doaku benar-benar dikabul seperti ini. Jika rasa bahagianya seperti ini. Jika melihat senyumannya sudah beda. Sekarang dia terlihat jauh lebih tenang dan dewasa loh Mi! lebih ganteng hehehe” Florian asyik menikmati donat coklatnya tanpa memperdulikan ekspresi heran Mimi dan Jamal.

        “ Aku tetap engga ngerti Flo… aku engga ngeri jalan pikiran kamu. Apa itu cinta, obsesi atau kebodohan… yang jelas aku senang melihat kamu bahagia. Aku berharap kamu mulai memikirkan kamu sendiri, masa depan kamu, memikirkan harapan orang tua kamu! Waktu terus berlalu tanpa kita sadari Flo.. tanpa sadar kita sudah menjadi jompo dan rapuh. Jangan kamu sesali ketika semua menjadi sangat sepi dan menyedihkan karena kita tidak punya orang-orang tercinta yang menemani kita di sat itu.” Mimi terus menatap wajah sahabatnya, berharap dia bisa menemukan wajah lugu sahabatnya seperti tujuh tahun lalu.

Florian hanya terdiam mematung, memikirkan perkataan sahabatnya. Dahulu dia yang begitu semangat merencanakan masa tuanya. Dia yang begitu menginginkan mempunyai keluarga besar, keluarga yang dipenuhi canda tawa dan kenakalan anak-anak. Kini semuanya sudah berubah. Dia tidak lagi ingin memipikan itu semua. Mimpi-mimpi itu hanya membuatnya sakit. 

        “ Ya… kita lihat aja nanti. Biarkan waktu memainkan perannya! Yang jelas kini aku sudah berasa lega, doa-doaku, harapan-harapanku untuk dia sudah terjawab. Aku bahagia, bahagia dan bahagia melihat dia yang sekarang. Sudah ah… aku letih sekali. Membicarakan ini selalu menguras energiku. Aku ingin tidur.” Florian bergegas ke kamar. “ Aku numpang tinggal sampai besok ya!”

Mimi menyandarkan tubuhnya ke dada suaminya. Dia turut merasakan kelelahan yang dirasakan Florian. Dahulu dia pun pernah merasakan luka hati yang sangat parah, hingga dia terus berlari dan berlari hingga semakin tersesat dan hilang arah. Di saat itulah dia bertemu teman-teman yang mengenalkannya pada satu cinta yang lain, cinta pada alam, yang mengantarkannya pada satu cinta sejati, cinta pada sang Khalik. 

        “ Satrio itu seperti apa sih bun? Kok bisa Florian sampai segitunya?”

       “ Aku juga heran. Tidak ada yang istimewa dari dirinya. Dia hanya manusia yang tidak puas dan lupa bersyukur atas apa yang dia punya.”

        “ Iya ya… ketika banyak orang yang mempertanyakan dan meragukan leberadaan cinta sejati, dia justru melepasnya, menyia-nyiakan. Bodoh sekali ya bun… andai dia tahu, jika ada seseorang yang terus mendoakan kebaikan dan kebahagian untuk dia, bagaimana ya perasaannya?”

        “ Harusnya bersyukur, tidak semua orang seberuntung itu. Apalagi yang mendoakan dia itu salah satu yang pernah dia sakiti hatinya. Ya sudahlah mas, toh dia sudah menikah. Mudah-mudahan dia benar-benar sudah berubah seperti yang Flo certain barusan. Ngomong-ngomong, nama yang Flo kasih tadi bagus juga ya mas.”

        “ Nazihah. Terlindungi dari hal-hal yang buruk. Amin…” Mengelus-elus perut buncit istrinya.

***

Dipandangi wajah di hadapannya. Begitu tirus dan tampak rapuh. Dia tidak begitu mengenalinya andai saja tidak ada ada bulu halus di bawah hidungnya, dan alis tebalnya yang tidak pernah berubah.

        “ Masya Allah… sudah lama sekali aku tidak bercermin. Pantas saja banyak yang bilang aku berubah, aku sendiri pun tidak begitu paham siapa diriku yang sekarang.”

Ditelusuri wajahnya lebih dalam. Tidak ada lagi pipi tembem dan mata yang menyala ceria, yang membuatnya selalu tampak seperti anak kecil. Pipinya begitu tirus, matanya sayu dan dikelilingi lingkaran hitam karena kurang tidur bertahun-tahun. Kulitnya gelap karena sering terbakar matahari. Rambutnya tumbuh liar dan berantakan, andai tidak tertutup kerudungnya pasti akan membuat siapapun lari.

       “ Flo… Flo… Ya Allah ampuni gadis ini.” Gumam Florian.

Florian melebarkan kedua tangannya seperti siap terbang. Dihempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya.

        “ Ya Allah… izinkan aku mengepakkan sayapku bebas kemanapun aku ingin, tapi jangan biarkan aku tersesat dalam gelap dan kebodohan. Jangan biarkan aku menjadi pelari, tapi tolong bimbing aku untuk menjadi pendaki yang tangguh, yang sanggup melewati seterjal apapun medan yang kulalui. Ya Allah… aku ikhlas… aku ikhlas… aku iklaskan dia. Tolong sayangi, jaga dan lindungilah dia selalu.”

Mesin Penenun Hujan dari Frau mengalun merdu dari Samsungnya.

       “ Assalamualaikum sayang!” suara lembut menyapanya.

       “ Walaikumsalam Ma.”

        “ Kamu ke mana aja sih? Pergi lama kok ngga bilang sama Ma? Kami khawatir sama kamu nak! Maaf jika Mama terlalu keras sama kamu ya!”
Mendengar suara lembut ibunya, Florian menahan dirinya untuk tidak menangis. Selama ini dia sibuk dengan perasaannya sendiri tanpa memperdulikan keluarganya. Dia terpuruk dalam lukanya sendiri hingga dia tidak menyadari jika dia justru mengukir luka di hati ibu dan ayahnya.

        “ Maafin aku ya Ma! Maafin untuk semuanya. Aku ada di rumah Mimi, besok baru pulang. Aku sayang Ma dan Bapak. Maafin aku ya Ma.” Bulir-bulir meluncur di pipinya.

        “ Kami juga sayang kamu Flo.Ya udah hati-hati. Salam sama Mimi dan Jamal ya. Assalamualaikum.”

        “ Walaikumsalam.”

Florian tertidur pulas tanpa mimpi-mimpi yang selama ini selalu menemaninya. Dia tertidur dengan tersenyum damai.
***

        “ Assalamualaikum!” Sapa Florian riang. “ Sehat semuanya kan?”

        “ Walaikumsalam Mba! Sehat Alhamdulillah.” Jawab karyawan butiknya yang terkejut dengan keriangannya.

        “ Bagaimana penjualan kita seminggu ini Uni?” 

        “ Alhamdulillah ramai Flo. Jilbab rancangan kamu yang terbaru, yang bernuansa bunga sakura itu laris manis, sampai keteteran juga terima pesanan. Apalagi setelah kita terima pesanan via on line.”

        “ Alhamdulillah. Tapi setiap unitnya jangan dibuat banyak ya Ni! Dibuat terbatas biar engga pasaran dan tetap unik.”

         “ Ok! Kemarin Ika dari cabang Bogor telephon, katanya ada customer yang ingin ketemu kamu langsung, minta dibuatin seragam keluarga besarnya. Saya coba handle tapi katanya dia mau nunggu kamu pulang.”

        “ Ya udah dibuatin janji saja! Uni ada janji tidak hari ini?’

        “ Tidak. Kenapa?

        “ Nyalon yuks nanti sore!’

        “ Apa? Tidak salah denger saya?” Terkejut Jingga 

        “ Tidak… temani aku berseneng-senang ala perempuan ya!. Nyalon, nonton, makan.”

        “ hahahaha… ada-ada aja kamu. Baru nyadar kalau kamu perempuan? Tapi saya engga mau kalau kamu bonceng, bisa jantungan saya. Perempuan kok naik motor kaya kesetanan gitu! Lagipula tumben-tumbenan pulang dari gunung ceria bener, ehem ehem… ada apa ya…?”

        “ Iya deh… Kita naik taxi aja. Sekali-kali mah engga apa-apa kan.. oh ya! Mulai ajarin si Tina untuk handle butik! Kemarin saya sudai survey ke Cikarang, di sana masih jarang butik muslimah. Jadi kalau dia sudah siap dia yang akan pegang cabang di sana. Saya ke dalam dulu ya Uni. Banyak ide muncul waktu di kerete kemarin, tapi sayangnya engga bawa kertas. Mudah-mudahan masih bisa dikeluarin. Jadi kalo engga terlalu penting, jangan ada yang hubungi saya dulu ya Uni! Thanks!” Florian segera menuju ruang kerjanya.

        “ Ok! Tapi jangan lupa makan siang and sholatnya ya de..”

        “ Sip!”

Florian menatap seisi ruang kerjanya. Semua ornament di dalamnya bernuansa hitam dan ungu. 

         “ hmm… kenapa semua jadi terlihat suram ya? Sepertinya aku butuh perubahan suasana. Warna tembok dan tata letaknya harus di ubah nih!”

Florian pun langsung sibuk menuangkan ide-idenya di atas kertas gambarnya. Telephon di atas mejanya berbunyi membuyarkan konsentrasinya.

        “ Ya Uni?

        “ Pak Banyu, customer kita yang dari Bogor itu sedang ada di Jakarta hari ini. Jadi dia ingin bertemu kamu malam ini? Bagaimana?”

        “ Malam ini? Besok siang aja gimana? Pengin ngerileksin badan nih…!”

        “ Itu bisa ditunda besok Flo... Pak Banyu cuma punya waktu hari ini, besok dia mau ke Makasar katanya.”

        “ Ok deh! Mau ketemu di mana? Lelaki ya? Kupikir perempuan. Kalau gitu Uni pergi denganku ya!”

        “ Ok! Di Setiabudi pukul tujuh. Jangan lupa makan siang dulu de, sudah siang nih.”

        “ Ok. Thanks.

***

Setengah tujuh malam Florian dan Jingga meluncur menuju Setiabudi dengan scorpionya. Sesekali Jingga mencubit pinggang Florian apabila gadis itu mengemudi terlalu cepat.

        “ Aduh de… jangan ngebut-ngebut kenapa sih! Sebentar lagi juga sampai.”

        “ Iya… iya. Sakit tahu!”

Jantung Florian berdebar-debar kencang tidak seperti biasanya. Dari siang tadi, Florian mencoba mengingat-ingat nama Banyu. Nama itu seperti tidak asing baginya, tapi dia tidak jua dapat mengingatnya.

        “ Ah… mungkin hanya perasaanku saja.” Gumam Florian

        “ Apaan de?”

        “ Engga… tiba-tiba perasaanku kok engga karuan ya Ni. Waktu ngadepin client pertama saja engga begini. Nama Banyu itu seperti pernah kudengar, tetapi aku lupa siapa. Kira-kira orangnya seperti apa ya Ni?”

        “ Aku juga engga tahu de. Aku cuma ngobrol lewat telephon. Mungkin kebetulan saja namanya sama dengan kenalan kamu.”

Tepat pukul tujuh malam Florian tiba di café yang dituju. Tampak seseorang sudah berada di meja yang sudah di pesannya. Jantung Florian semakin berdebar kencang.

         “ Assalamualaikum.”

        ” Walaikumsalam Florian.” Pria itu menoleh

Florian terduduk lemas di kursinya menatap pria yang tersenyum manis itu. Pria itu ternyata Banyu, teman dari Sendi, pria yang dikenalnya di kereta ketika Florian berangkat menuju Semeru. Pria itu juga yang membangunkannya ketika Florian tertidur di puncak Mahameru, dan yang memberinya sapu tangan untuk menghapus air matanya. 

Ruangan café yang biasanya membuat Florian jengah kini terlihat begitu indah dan elegant. Florian merasakan dunianya kembali indah dan berwarna. Florian siap mengepakkan sayap-sayapnya untuk terbang kembali menatap indahnya dunia.

Tamat.