Senin, 22 Oktober 2012

Bukan Pejalan Solo -- Toraja & Bira

Ada link tiket promo di sebuah forum Traveler, Klik, pilih hari dan bayar.. kemudian woooow... ngapain ya saya ke makassar,, ambil hari sebentar pula.. hanya lihat harganya cocok dengan kas rekening, main deal dan bingung..  << -- kebiasaan buruk 1,, bertingkah tanpa pertimbangan

sehari sebelum berangkat, baru lapor sama bos pasang muka memelas dan berharap berangkat,, syukur - syukur tiketnya boleh diperpanjang 2 hari lagi,, boleh berangkaaat tapi hanya sesuai tiket pesanan tidak boleh tambah hari. << -- kebiasaan buruk 2,, bertingkah seenaknya


Ok,, Makassar 4- 7 Oktober. Begini ceritanya.. 

4 Oktober 2012

Penerbangan pukul 6 pagi,, heboh sendiri karena tidak tahu diterminal berapa n hari sudah mulai terang.. so dumm

check in, boarding dan langsung tertidur pulas karena tak tidur hari sebelumnya.. dua jam penerbangan tibalah di bandara Hasanudin untuk pertama kalinya,, takjub 

Puas berkeliling, lanjut ke Unhas FT, menemui teman - teman MAPALA 09. Sambutannya menyenangkan, membuat serasa di lingkungan sendiri

Asyik mengobrol seru dengan kawan - kawan yang dikenalkan Edont, kawan yang ku kenal di ambon dulu, dengan sajian Jalangkote (di Jakarta dinamakan Pastel) dan secangkir besar teh manis 

tepat siang hari  kawan dari UNM, Subhan, dipanggil Obe, yang baru kujumpai hari itu datang menjemput dan mengajakku berkeliling Kota Makassar ditengah kesibukannya sebagai panitia lomba bahasa Jerman,, wooow er ist sehr nett, lustig, ich mag ihn :)                                                                                                                                             dia mentraktirku makan siang Coto Makassar di Daeng Coto Bagadang, rasanya gurih dan menurutku lebih sehat dari Soto di Jawa karena kuahnya bukan dari santen tapi dari kacang. 


menanti sunset di Losari

Hari Sore, kami berkeliling di Benteng Rotterdam, Benteng besar yang terawat baik yang berada tak jauh dari pantai losari. Sedikit sejarah yang ku copas dari Wikipedia :

...."Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa'risi' kallonna. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros. Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan.
Nama asli benteng ini adalah Benteng Ujung Pandang, biasa juga orang Gowa-Makassar menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua yang merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa-Tallo akhirnya menandatangani perjanjian Bungayya yang salah satu pasalnya mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan benteng ini kepada Belanda. Pada saat Belanda menempati benteng ini, nama Benteng Ujung Pandang diubah menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur.
Di kompleks Benteng Ujung Pandang kini terdapat Museum La Galigo yang di dalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Makassar.",,,,,





 di dalam museum

Luas Fort Rotterdam sendiri jauh lebih luas dari museum Fatahilah, Jakarta. bentuk utama masih dipertahankan namun sudah dipugar, dan dirawat sebaik mungkin, hingga bikin betah .

dan taraa.. Akhirnya tidak hanya lewat tv atau lagu, senja itu aku diantara kerumunan menanti sang surya bernajak pergi :) amazing


pisang epe, yang banyak dijumpai sepanjang pantai Losari

Losari menjadi penutup senjaku yang indah hari itu. segera beres - beres dan bersiap - siap menuju Toraja.. yihaaa catatan baruuu

21:30,, Bus Litha hampir saja jalan,, ketika aku tiba di poolnya malam itu. Rp.130rb yang aku keluarkan untuk bus yang sangat nyaman itu, kursi empuk sandaran kaki, luas dan selimut hangat.. mantaapz.
hariku yang lelah dan kurang tidur kutumpahi disana, yang sayangnya terganggu ketika semua penumpang harus turun di sebuah terminal kecil hanya untuk membayar retribusi.. Rp.500,, hmmm..

dan entah kenapa, berkali - kali petugasnya bertanya - tanya aku mau turun dimana, sepertinya ada yang salah.. setengah sadar disuatu tempat yang bahasanya tidak kumengerti itu seperti tercekik air laut ketika panik saat snorkeling

Namun ditengah keanehan itu baru aku sadari ada gadis manis yang juga jalan sendiri ke Toraja, Nia namanya, pejalan dari Bali. dan kami sepakat untuk join trip sejak Toraja.


05 Oktober 2012

Waktu Subuh, bus Tiba di Poolnya yang terletak di Rante Pao. sarapan pagi, beli tiket pulang untuk malam nanti, dan ke tempat penyewaan motor... ok guyz.. perjalanan bisa dimulaai

Oh ya tarif motornya itu tergantung berapa lama, dan jenis motornya. Motor mio yang kusewa untuk delapan jam (diberi bonus 1 jam, jadi 9 jam) itu bertarif 75rb, motor matic harganya lebih mahal dari motor biasa looh :)

Transportasi beserta peta sudah ditangan, aku dan Nia mulai menyusun langkah rute yang akan kami ambil berdasarkan hasil browsingannya. Maksud hati isi bensin motor, ternyata jauh ke arah selatan, dan rute pun dimulai dari Selatan.

Berikut Tempat yang dapat kami datangi berdua :


Lemo

Tempat pertama yang kami datangi yaitu Lemo. Lemo merupakan kuburan di bukit batu, yang terletak di sebelah utara Makale. Di bukit ini terdapat sekitar 75 lubang kubur yang tiap lubangnya merupakan kuburan satu keluarga. Untuk membuat lubang itu diperlukan waktu  6 bulann hingga 1 tahun dengan biaya hingga puluhan juta. Bukit ini sering disebut rumah para arwah. Menrut keterangan yang kami dapat, apda waktu - waktu tertentu pakaian dari mayat - mayat tersebut akan diganti dengan upacara Ma Nene.





Londa




Setelah Limo, perjalanan kami lanjutkan menuju utara kembali. Londa terletak di Desa Sendan Uai, Kecamatan Sanggala, sekitar 5km ke arah selatan dari Rante Pao. Jaraknya tidak terlalu jauh dari Limo. Londa merupakan bukit dengan goa di dalamnya, tempat mereka memakamkan anggota keluarga mereka. Ada beberapa peti mati yang belum telralu lama. Awalnya kami ke dalam dengan membawa senter masing - masing, namun belum dalam kami masuk, kami putuskan untuk meminjam lampu Petromak (beserta guide tentunya) yang banyak di jajakan disana, hingga keterangan bisa lebih lengkap kita dapat, sewa patromak 20rb, dan biaya pemandunya seikhlasnya.


 romeo dan juliet versi Toraja

naaah ini Nia,, sang pejalan solo..

(sumber foto :Nia)

tengkorak - tengkorak bergelatakan disana, ada tengkorak bayi diatap - atap goa, bahkan ada jenazah yang belum terlalu lama. Entah mengapa jenazah - jenazah itu tidak berbau.

Berfoto diantara tulang belulang berasa di sebuah studio saja @.@..


Ke'te Ketsu

Ke'te Kesu terletak 4 km dari tenggara Rantepao, yang berarti pusat kegiatan. Dimana terdapat perkampungan, tempat kerajinan ukiran, dan kuburan. Di tempat ini pula terdapat deratan rumah adat tang disebut Tongkonan. Sekitar 100m di belakang perkampungan ini terdapat situs pekuburan tebing dengan kuburan bergantung dan tau - tau dalam bangunan batu yang diberi pagar. Tau - tau ini memperlihatkan penampilan pemiliknya sehari - hari.

naah begini nih yang bisa dilihat di Ke'te Ketsu

diantara tongkonan



makam ini berisi 11 angota keluarga



kubur gantung

tau - tau


boneka - boneka ini di kerangkeng karena sering ada pencurian, dan konon harganya mahal dipasaran


Pasar Kerbau (Lupa namanya -_- )

Tepat tengah hari kami meluncur kembali ke arah Rante Pao untuk ke pasar kerbaunya yang terkenal, lupa namanya, dimana terdapat ratusan kerbau dijajakan, dan tentu saja yang jadi primadona si kerbau Bule,, yang namanya sulit diucapkan.


kerbau ini harganya 500juta looh :)


Setelah IShoma, kami melanjutkan perjalan, menuju Karasik, tempat batu - batu megalitikum yang masih berdiri.



lalu segera kami kembali ke arah Batu Tumonga,,  sejam, dua jam berlalu, jalanan rusak parah dan berliku, semakin dingin pinggang pun semakin beku.. semakin berpacu semakin jengkel karena rasanya tak jua - jua sampai.. huft. 

dan akhirnya terhenti di sini





sebuah tempat yang menyerupai lembang, Bandung... menurut pemilik warung kira - kira 4 km lagi menjelang Batu Tumonga dan Lokkomata,, sebenernya hatiku tak surut semangat,, tapi rupanya partnerku memilih pulang.. yaa apa boleh buat.. -_-


hasil jepretan menjelang kembali ke Rante Pao


warung tergantung

kubur - kubur di batu,, weeew berapa lama ya melubanginya

menutup sore, sebelum waktu sewa motor habis,, perjalan di lanjutkan ke Tilanga, sebuah tempat pemandian, yang dilihat hasil browsingnya terlihat bagus tapiii





begitu melihatnya,, aku dan Nia segera angkat kaki kembali :)

Yang Terlewatkan

Nia yang mengambil alih kemudi, segera melaju dengan cepat kembali ke Rante Pao, tidak menggubris permintaanku ke Desa Kambira, desa yang mengubur bayinya di Pohon,, hmm.. kembali kecewa setelah melewatkan Batu Tumonga,, berasa sedikit ada yang kurang, tapi mungkin biar ada alasan aku kembali :)

sekedar info,, kalau ke Toraja baiknya tidak melewatkan tempat ini yaa..

 kubur bayi

info kuburan bayi :

Di kuburan ini, bayi yang meninggal sebelum giginya tumbuh dikuburkan di dalam sebuah lubang yang dibuat di pohon Tarra’. Bayi ini dianggap masih suci. Pohon Tarra’ dipilih sebagai tempat penguburan bayi, karena pohon ini memiliki banyak getah yang dianggap sebagai pengganti air susu ibu. Dengan menguburkan di pohon ini, orang-orang Toraja menganggap bayi ini seperti dikembalikan ke rahim ibunya dan mereka berharap pengembalian bayi ini ke rahim ibunya akan menyelamatkan bayi-bayi yang akan lahir kemudian.

Pohon Tarra’ memiliki diameter sekitar 80 – 100 cm dan lubang yang dipakai untuk menguburkan bayi ditutup dengan ijuk dari pohon enau. Pemakaman seperti ini dilakukan oleh orang Toraja pengikut ajaran kepercayaan kepada leluhur. Upacara penguburan ini dilaksanakan secara sederhana dan bayi yang dikuburkan tidak dibungkus dengan kain, sehingga bayi seperti masih berada di rahim ibunya.
Kuburan ini terletak di Desa Kambira, tidak jauh dari Makale, Tana Toraja.

menjelang malam,, saatnya kembali ke Makassar. bus Litha pun sudah menunggu kami.

06 Oktober 2012
sampai Pool dini hari, mengumpulkan kesadaran penuh dan menanti mentari bersinar. pagi ini aku putuskan menujut Tanjung Bira, sebuah pelabuan, yang juga terdapat pantai yang cukup dikenal di kalangan Traveler,

dari depan Pool naik Pete - Pete (angkot) menuju jl. Veteran, lalu disambung pete - pete yang menuju terminal Mellengkeri untuk naik Kijang yang Tanju Bira untuk ke terminal Bulukumba,, (yang kemudian baru aku ketahui kalau ada Kijang yang langsung ke Bira, asal pas waktunya)

Tanjung Bira ini letaknya di Ujung Selatan Sulawesi,, jadiiii dari Makassar itu lamanyoo.. Lebih dari 6 jam waktu yang kami tempuh untuk tiba di sana,, selain memang jarak yang jauh, yang bikin lama karena angkutan di sini full service,, penumpang benar - benar diantar hingga gerbang rumah, membuat kami yang paling jauh hanya bsia terbengong-bengong dan bergumam sendiri.. @.@ , dan harus tahan juga kalau angkotnya dijejali barang segala macam hehe

bentuk rumah di pesisir bira

Pak Askiar, Supir Angkot itu pun dengan baiknya mengantar kami mencari penginapan, yang murah meriah,, setelah sempat kecele dengan Bu Kades yang menawari penginapan murah (namun ternyata bukan punya dia dan kami "diusir" :)) ) akhirnya kami pun bermalam di Kalubimbi Cottage, yang memberi harga muarah karena Pak Askiar mengakui kami sebagai ponakannya.. hihihi

Setelah beres - beres dan cukup beristirahat, saatnya memanjakan kaki di pasir putiiih

Di Pantai terdapat kapal - kapal kecil yang akan mengantar kita snorkeling di tengah dan ke penangakran penyu, bintang laut dkk. namun sore itu kami habiskan berguling - guling saja di pasirnya, sembari memandang hotel Pinisi, yang konon permalamnya lebih dari 1 juta.. weew







pagi harinya, dengan dipinjami motor dan diantar pemilik penginapan, kami melihat Pinisi yang sedang dibuat, dan ini termasuk salah satu Pinisi terbesar yang pernah dibuat. 



  


"Pinisi yang mengharumkan pelaut Indonesia, tapi juga turut andil mengurangi hutan" kata pengrajinnya

Puas bernarsis ria, kami kembali ke pantai tempat sandar perahu,, dan nasib baik masih bersama kami. Perahu yang biasanya 350rb sekali pakai, belum termasuk peralatan senorkeling, kami dapatkan hanya 170rb + 10rb uang masuk penangkaran, sudah dapat semua layanan.. huaah.. hanya berdua (berempat ding sama pemilik kapal dan ponakannya) berasa ajiiip





penangkaran penyu


dibawah lautnya 


selesai sudah perjalananku disini, dengan terburu - buru karena sudah ditunggu Kijang yang cukup lama menanti kami,.. dan satu kejutan kami, Supirnya mengantar kami ke desa pembuatan Pinisi, ternyata Bapak - Bapak di warung yang kami kenal semalam menyampaikan keinginan kami.. ;terharu


dan tahukan berapa isi kijang dimuat??  didepan saja kami ada empat orang, dan katanya kalau hari natal atau tahun baru, bsia sampai lima orang :amazing  hahaha

 ----
kembali ke UNHAS, pamitan dengan MAPALA09, ditutup dengan kacamata pecah, meraba malam dalam gelap. hohoho.. Alhamdulillah


 yuks aah keliling Makassar dengan Bentor :)


Selasa, 02 Oktober 2012

Tak selalu manis

di pekan terakhir september ceria, kutempuh perjalan panjang ditemani Rioku tersayang..
Pramuka --> Limau --> Mauk, Tangerang --> Koja --> Duren Sawit --> Bogor --> Bekasi --> dan kembali ke rumahku Di Koja..

perjalanan dari berburu ilmu, berjumpa sahabat, dan jua menjalin tali silaturahim dan keceriaan bersama anak2 kaskus traveler.. weew

Dalam perjalanan kembali ke Koja, di kawasan Pegangsaan Dua, rasa letih dan kantuk menderaku yang hanya tidur kurang dari 3 jam pada malamnya, memaksaku berhenti di sebuah warteg pinggir jalan. teh manis pun ku pesan.

Bu tolong buat di botol ini saja, ujarku pada ibu penjual sembari menyodorkan botol minum,, diacuhkan.. huft.. ya sudahlah pikirku, nanti kutuang saja..

berapa menit berlalu, sekantong teh hangat kuterima dan kubayar. kureguk dan woow.. suweer rasanya ga manis.. hambarrr.

"bu ga manis, bisa ditambah gulanya?"
"udah ukurannya!"
"tapi bener - bener ga manis bu", memandang teh dengan tatapan memelas.
"orang udah ukurannya segitu, gimana siih !!" dengan ketusnya memandang tajam..
gedubrak,, plaks,, woow, "ya udahlah!" jawabku malas

kembali ke Rio dan kuperhatikan warung makan ini,, sepi.. entah karena malam atau memang tak pernah rame, tapi yang pasti.. sikap tak manis penjualnya sudah membuatku enggan kembali kesana.

kasus yang sederhana sebenernya,, namun sedikit mengajakku berfikir.

Teh yang diharapkan berasa manis ini merupakan refleksi dalam kehidupan nyata, bahwasannya hidup tak selalu terjadi seperti yang kita mau. Hidup tak selalu manis dan indah seperti mimpi - mimpi yang kita angan - angankan.

Hidup kadang berasa hambar, membosankan atau bahkan menyebalkan.

kisah romantika yang tak semanis seperti ftv
hidup yang datar - datar saja
pekerjaan yang sama sepanjang waktu
kuliah yang tak semulus jalan tol
cintamu padanya yang tak bersambut
persahabatan yang tak tulus
keluarga yang penuh melodrama
bla bla blaaa .. ---nah jadi curhat daah


Teh itu tidak berasa manis bukan karena gulanya yang kurang, tapi karena si ibu memberikan air terlalu banyak melebihi ukurannya, sehingga gula dan tehnya tak berasa lagi.

soo?? bukan ga mungkin kan kejadian - kejadian tak manis yang kita terima karena ada ukuran yang tidak pas.. usaha yang kurang, idealisme yang ketinggian, whateverlah

Masih ada cara untuk menikmatinya atau mungkin membuatnya jadi pas,,
bisa dengan cara frontal, mengambil gula dari penjualnya yang tentunya akan memancing keributan lebih, namun mungkin bisa dihindari bila kita menambah bayarannya.. atau seperti yang kulakukan saat itu pasrah, tersenyum dan bersyukur.. bersyukur karena hangatnya teh menyegarkan kembali tubuhku, dan memasang senyum lebar karena konon dengan senyum membuat jiwa kita menjadi tenang dan hangat, dan cara itu berhasil.. entah karena terlalu lelah dan malas meributi hal yang tak terlalu penting tapi rasanya malam itu aku bersyukur karena bisa terus terjaga hingga aku dan Rio bisa sampai rumah dengan selamat.

Bagaimana dengan kamu?? cara apa untuk membuat kisah tak manismu menjadi manis atau bahkan sangat manis??

apapun caramu, jangan biarkan yang tak manis itu turut membuatmu jadi tak manis..

semangaat

Sabtu, 08 September 2012

minggu I september 12

di sebuah sudut dengan segelas cokelat -- atau kopi yaa??-- menghabiskan penghujung hari sebelum weekendku menjelang... 

hmmm.. minggu ini berasa panjaaang sekali hingga berasa lelah dengan kisah sarat maknanya..

penghujung pekan lalu dikagetkan dengan sahabatku yang membawa pasangan hidupnya, namun tetap saja menyembunyikan statusnya dariku.. owwh membuat hatiku meweks saja.. membuatku terus belajar berdamai dengan hati dan mencari kebijakan - kebijakan dan pembenaran akan perilakunya... + thingking guyz... so schwer..

diawal pekan salah satu sobatku mulai mengejar mimpi - mimpinya di eropa,, weew membuatku merasa kerdil karena tak jua berhasil mewujudkannya namun disaat yg sama itu kembali memacuku.. Gott hilft mir bitte :)

dan berapa hari lalu baru kudapat kabar,, "dia" itu yang selalu tetap menjadi angan - anganku, ternyata disadari atau tidak olehnya mematri aku didalam pikirannya, hahaha GR gilaa ,, yaaa kalo orang mampu terus membahas berhari-hari tentang aku boleh dong aku Gr sangat wkwkw,, walau bisa aja kebodohan-kebodohan dan segala kejelekanku yang dibahasnya,, tapi yang penting dia ingat haha

mungkin ini yang pujangga bilang sejatinya bahwa cinta itu bodoh... dah terus menerus ditolak, dikasari pula, dicuekin.. eeh hanya denger bahwa dirinya diingat saja sudah mampu membuat terbang sampai kepentok atap  ^_^

bunga bunga hahah

entah kenapa,, minggu ini berasa menguras energi ketika rasa melankolis menguasai..

dan dipenghujung minggu ini pula, baru kutahu layang - layang itu tak mudah kuputuskan..

---
yaa beginilah nikmatnya hidup,, pasang surut warna warni yang penting terus menajdi baik dalam banyak hal..

Sabtu, 01 September 2012

patah hatiku

antara bahagia dan terluka..

setelah berapa lamanya kita  tak bersua,, terikat dengan waktu dan aktivitas yang berbeda akhirnya ku dapat melihat wajah manismu kawan.. sungguh kau makin bertambah cantik dan menarik di mataku.. tawa dan candamu masih tetap sama,, selalu renyah dan menyenangkan, menetralisir kekakuan yang menyelimuti otakku. ich vermisse dich sehr.. tapii,, siapakah dia yang ada disampingmu??

kucari jawab dari setiap gerakmu, senyummu dan cincin yang melingkar di jari - jarimu.. suamimukah dia?,, pacarmu? aaah aku yakin sungguh kamu masih tetap kamu yang selalu menjaga dirimu..

andai itu benar,, sungguh aku bahagia bukan kepalang. sahabatku yang baik pasti dapat dia yang baik.

"kau pasti akan tahu nanti" jawabmu.

aaah aku patah hati.. sungguh!

aku bukan peramal dan aku hanya ingin dengar jawabmu..

rasanya lebih menyedihkan daripada cinta yang tak bersambut, ketika sahabatmu terkasih tak merasakan yang sama denganmu. 
kucoba mengerti bahwa pasti ada alasan dari yang kau lakukan.. tak akan marah diriku walau undangan tak sampai. tapi ketika pengakuan pun tak kau berikan.. ich bin so traurig schatzy..

dan kini aku tergugu dalam sejuta tanyaku. 
apa sebuah kabar bahagia pantas ditutupi?
apa sungguh aku tak punya arti dimatamu?
apa aku terlalu naif dan menilai tinggi dirimu?

mungkin aku perlu pasang banyak kaca disetiap sudut hidupku, agar aku bisa bercermin dan menilai diriku dengan benar hingga bisa melihat setiap noda yang membuat temanku menjauh.. atau lebih baik bersikap datar, skeptis dan masa bodoh.. aaah sepertinya aku terlalu idealis dalam menyikapi sebuah persahabatan!!

cinta sejati mungkin tak pernah ada,, walau cinta sahabat sekalipun.. 

Mein Gott.. ich bin so traurig..

Kamis, 30 Agustus 2012

Catatan Wanita Peduli Leukemia (14-15 Juli 2012)



Dermaga Canti, Lampung selatan. Pertengahan Juli

Menyambut pagi. Tiga puluh tujuh perempuan tiba untuk mengikuti rangkaian acara Wanita Peduli Leukemia, sebuah acara pendakian yang bertujuan memberi dukungan dan semangat kepada penderita kanker khususnya Leukemia, dengan senyum sumringah dan antusiasme tinggi.

Tujuan pertama kami yaitu Sebuku Kecil, pulau kosong yang letaknya tidak jauh dari Pulau Sebesi. Hunting foto sejenak, menikmati indahnya pasir putih, birunya laut dan berburu kulit kerang atau karang – karang cantik yang bertaburan di pinggir pantai pulau cantik ini. Jeprat jepret tak puas – puas wanita – wanita ini bergaya.


Berbagi itu Indah
Selanjutnya kami dibawa ke pulau Sebesi, pulau terbesar yang ada di gugusan kepulauan lampung ini. Pulau yang cukup padat penghuninya. Tujuan utama kami adalah Sekolah Swadipha, sekolah swasta pimpinan Ibu Esti Prasetyo, guna mengantarkan sumbangan buku dan alat tulis yang telah kami himpun dari Jakarta. Melihat kondisi sekolah yang cukup memprihatinkan, dengan sarana belajar seadanya, listrik yang dijatah dan kekurangan guru membuat kami bersyukur karena kami masih dengan mudahnya mengenyam pendidikan di kota kami Jakarta.




Disambut Gempa
Tengah hari begitu seremonial penyerahan sumbangan berakhir, kami lanjut ke tujuan utama kami Anak Gunung Krakatau. Sekitar Tiga jam kami terombang ambing di atas kapal membuat sebagian dari kami yang fobia laut cukup ketar –ketir dan memanjatkan doa, terlebih ketika ombak sedikit nakal mempermainkan kami.





Baru saja kami menginjakkan kaki kami ke atas pasir hangat Anak Gunung Krakatau , terasa bumi bergetar kencang.. aah rupanya begini caranya krakatau menyambut kami. Adrenalin pun merambahi kami secara perlahan. Gempa 4,3 SR, begitu kabar yang kami dengar dari kawan di BMKG.

Dengan segera tenda berdiri dan makan siang pun siap. Berikutnya kami dipersiapkan untuk kembali berlayar menuju kawasan Pulau Panjang guna menikmati keindahahan bawah lautnya.
Jernihnya air laut dan karang – karang yang indah menggoda kami untuk segera menyelaminya. Rasa lelah perjalanan panjang dan ketegangan kami tadi serasa hilang seketika. Hanya keriangan dan canda yang ada saat itu.

Setelah puas bermandikan air laut, kami kembali ke Camp Ground kami Anak Krakatau untuk bersiap – siap acara berikutnya, sharing tentang Leukemia.



Hidup itu Anugerah
Malam terus merambat, namun cuaca semakin semarak dengan hiruk pikuk wanita-wanita tangguh yang riuh dengan masakan dan ceritanya. Tangki perut kami sudah terisi, kami pun siap dengan materi dan acara malam ini

Dua pemateri sudah siap ditengah-tengah kami, Ibu Lydia Dumaiyanti dan Bapak Willy Kasakeyan dari Himpunan masyarakat peduli Elgeka atau cukup disebut ELGEKA, yaitu komunitas pasien Leukemia Granulositik kronik dan Gastro Intestinal Stroma Tumor. Ibu Lydia adalah penderita Leukemia kronis sejak tahun 2007 dan aktiv sebagai sekretaris dan bidang pelayanan pasien dan Pak Willy yang menderita Kanker Usus adalah Ketua II Bidang pelayanan dan Hubungan kedaerahan.

Selain menjelaskan tentang seluk beluk Kanker secara umum dan Leukemia Pak Willy dan Bu Lidya pun menceritakan perjuangan mereka dalam menghadapi Kanker tersebut.
Lydia  Dumaiyanti divonis menderita kanker darah kronis pada  2007 silam. Saat itu dokter mengatakan, kesempatan hidupnya hanya  40 bulan lagi. Jika mengikuti prediksi dokter, Februari lalu maut menjemputnya. Namun Alhamdulillah, perempuan itu hingga kini masih sehat.   “Saya bilang saya kuat tetapi saya mau didampingi oleh orang yang lebih kuat dari saya,” begitu pesannya pada keluarganya disaat dirinya melewati masa – masa krititsnya. Menurutnya dukungan dari keluarga dan pengobatan yang tepat berperan besar bagi dirinya dan para pasien lainnya bertahan dan melewati masa – masa sulitnya. Bahkan Bu Lydia sudah mempersiapkan kondisinya kepada keluarganya apabila saat-saat kritis nanti timbul.

Tidak ada kata sembuh bagi penderita kanker leukemia kronis. Seumur hidup mereka harus minum obat.
“Banyak pasien yang bandel sudah bisa berdiri, jalan, lari, berhenti minum obatnya, kenapa? Kan aku sudah sembuh. Siapa bilang sembuh. Tidak ada yang sembuh. Tetapi kan kita yakin pasti sembuh. Iya yakin, kalau Cuma yakin tidak berobat, sama aja meminta kematian tetap datang.” terangnya. 
Tak beda jauh dari cerita Bu Lydia, Pak Willy pun menceritakan keadaan dirinya dalam menjalani Kanker. Keluarganya yang berperan besar dalam memberikan dukungan dan semangat hidup kepada mereka. Dokter pun mengira umur Pak Willy tak lama lagi. Namun syukur beliau masih bisa aktiv dan terus semangat dan membawa semangat kepada orang – orang yang ditanganinya.

“saya berdoa kepada Tuhan, Tuhan izinkan saya menyaksikan pernikahan anak gadis saya, dan doa itu terkabul. Lalu saya meminta, Tuhan izinkan saya bisa melihat kehadiran cucu saya, dan syukur doa itu pun terkabul.” Ujarnya. “Hidup itu anugerah de, dan kita harus bersyukur karenanya” ujarnya lagi
“ Tak ada yang sia – sia Tuhan berikan kepada kita. Akan selalu ada hikmah yang menyertainya.” Ujar keduanya. Bahkan karena saya penderita Leukemia, saya bisa berada diantara kalian saat ini, melakukan banyak hal yang semuanya baru sekarang saya rasakan. Naik kapal, snorkeling bahkan naik gunung esok. Semuanya begitu menyenangkan. Saya bahagia bersama kalian” terang Bu Lydia lagi

Kami yang awalnya mulai mengantuk kini berasa sangat terharu dengan penjelasan mereka. Banyak pelajaran yang kami petik dari kisah Bu Lydia dan Pak Willy, bahwa hidup itu sangat berharga dan harus kami perjuangkan. Para penderita itu saja begitu mensyukuri hidup mereka, menghapa kami yang masih muda dan sehat walafiat sering kali mengeluhkan hal – hal yang tidak begitu besar.
Begitu Sharing ini berakhir kami kembali segar melihat tumpukan doorprize yang dibawa rekan – rekan panitia. Rasanya baterai energy kami kembali terisi penuh J





Megahnya Anak Gunung Krakatau
Gempa yang berkali-kali menyapa kami tak menyurutkan minat kami padanya. Pagi – pagi sekali kami sudah siap dengan seragam dan slayer yang panitia berikan. Hanya menyibak sedikit pepohonan kami sudah tiba di lautan pasir. Dan Anak Krakatau terlihat megahnya dari kejauhan. Adrenalin dan keringat kami berpadu menciptakan sensasi tersendiri untuk kami pagi ini.
Satu persatu peserta tiba di patok 9, titik teakhir yang diizinkan. Bu Lydia dan Pak Willy jadi bagian diantaranya. Luar biasa kesan kami kepada mereka.






Tak puas-puasnya kami bergaya disana. Kemegan Anak Krakatau dan pulau-pulau hasil pecehan Krakatau purba berapa abad lalu menajdi latar belakang. Indahnya Indonesiaku.
Setelah berapa jam kami disana, akhirnya kami kembali turun ke Camping Ground untuk makan pagi dan bersiap – siap kembali berlayar, snorkeling di Umang – Umang dan kembali ke dermaga Canti untuk terus melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta.

Banyak cara untuk terus berbagi, belajar tanpa kehilangan kesenangan. J


yang kami kenang


ngegames dulu


paling enak neeh,,, yg lain masak, aku yg makan hahah

Schoen


sedikit oleh - oleh dari bawah lau








satu pesut ketangkep :D.. mantaapz

sumber foto :yunai dan akng areev