Sabtu, 01 Januari 2011

Santai di Burangrang...

Merasa rindu keheningan, suasana damai dan tenang, pemandangan yang menghijau dan udara yang sejuk tentunya namun tidak terlalu jauh dan menghabiskan banyak waktu... hmm kemana ya??.. tidak lama pikiran itu menggelayut kepalaku yang mulai merasakan begitu rindu akan alam,, seorang "abang" mengajakku menemaninya ke Burangrang, kebetulan minggu itu dia mau mengantar kawan-kawannya sekaligus mendidik para junior sekaligus mahasiswanya.. tanpa babibu saya iyakan.. hmmm hurrraaaaa...


24 Desember 2010


setelah memastikan semua pekerjaan dan kamar dalam keadaan beres, selepas maghrib berangkat ke Bandung meggunakan Primajasa terakhir dari terminal Priuk.. dan berangkaaat..

sampai di Lewipanjang, Bandung sangat malam, namun masih disambut bang mukhlis dan ambu dengan ramahnya di kawasan cibaduyut... (bertamu kok malam-malam sih noenk O.o)

istirahat dan packing ulang sebelum memejamkan mata yg sebenernya sangat tidak mengantuk.. menerwarang memandang langit-langit dan berpikir amazingnya hidupku.. lagi-lagi kenal satu keluarga karena dunia maya.. abah Mukhlis dan Ambu.. huaaah,, ga sabar melihat kembar esok harinya..


25 Desember 2010

terbangun masih terlalu pagi dan sholat dengan arah kiblat yang salah.. alamaaak,, bodoh sekali tidak bertanya sebelumnya... huhuu

namun begitu kembar bangun dan bermain,, berasa keringat dan menyenangkan.. lumayaan pemanasan sebelum naik wkwkwkw

susahnya foto bareng si kembar

08.30,, siap berangkaaaat..

berangkat dari rumah bang Mukhlis dan menjemput tiga kawannya yang sudah menuggu , tiga orang srikandi yang ternyata juga asal Jakarta... Para ibu-ibu muda yang masih tetep eksis terhadap hobi dan kecintaanya terhadap alam.. luar biasa... dan lima mahasiswanya yang masih lucu-lucunya.. alaamaaaks...

setelah makan siang, dengan naik angkot putih dari kawasan ledeng atau jalan bajuri, kami bersepuluh berangkat menuju Pos Komando.. turun di persimpangan jalan berbatu.. dan masih harus jalan kaki lagi menuju pos Komandonya... ampuuuun,, bisa remek duluan body gw.. hehehe.. tapi ternyata ada ojek yg bisa disewa sampai pos,, dan hanya 5rb dengan perjalanan yang lumayan ngerusak, secara grudukan abizz.. hmm


sekitar pukul 2, tibalah kami di Pos.. dan ada beberapa kopasus disana.. basa basi dan sholat.. menjelang sore perjalanan

selepasa Ashar, perjalanan dilanjutkan.. Alhamdulillah medannya tidak terlalu sulit.. pemandangan hutan pinus yang terhampar luas bagai permadanai hijau di kaki kami menyegarkan mata yang memandang..

perjalanan kali ini benar-benar beda dibandingkan perjalan saya sebelum-sebelumnya.. dibandingkan tim sirkus yang terbiasa berjalan cepat dan sering kali membuat saya kewalahan menyamakan langkah, perjalanan bersama Bang Mukhlis, mahasiswanya yang baru saja mengenal jelajah alam dan beserta tante-tante yang luar biasa ini memberikan sensasi baru, dimana perjalanan santai tanpa mengejar target benar-benar membuat saya merasakan kedamaian lebih dari biasanya.. setiap detilnya mampu saya ingat.. Pinus-pinus yang rapat, Situ Lembang dari kejauhan.. bahkan kontur tanah yang saya pijak... walau tidak dipungkiri memberikan saya sedikit kebosanan karena terlalu seringnya berhenti. mungkin karena saya tidak bisa menikmati tiap momennya seperti mereka dengan kamera canggih bervariasi.. atau karena saya terbiasa berlari-lari bersama tim Sirkus..

yang pasti.. saya merasakan kedamaiannya.. terlebih "minimarket" tersedia.. hahaha... gileee,,

menjelang senja,, hujan turun.. aku yang tak bawa raincoat ya cukup menikmati saja tiap rintiknya,, dan akhirnya dipinjami payung oleh Mba Rina..

melihat keadaan yang tak pasti di depan,,dikarenakan banyak pendaki yang datang minggu itu.. Bang Mukhlis setelah mencari tahu sebelumnya memutuskan kami tuk bermalam disana... masih berapa ratus meter dibawah puncak Burangrang.. sekitar lebih dari sejam tuk menggapai puncaknya..


26 Desember 2010


setelah sarapan secukupnya, perjalana pun dilanjutkan.. setelah sedikit mendaki jalan yang semakin lama semakin naik ke atas, dan harus berpegangan pada tali-tali yang telah disediakan oleh entah siapa,,

-jalan ini dijuluki Bang Mukhlis Hilary Step hmm.. lumayaan-

lebih dari sejam pun sampailah di puncaknya.. 2050 mdpl.. trangulasi pun didirkan sebagai penandanya..

dan benarlah perhitungan Bang Mukhlis untu mendirikan tenda di bawah tadi.. penuh sekali di atas sini..untuk bergerak mengambil gambar pun mengalami kesulitan..

09.00,, kami segera kembali ke tenda untuk segera makan dan packing dan turun..

segala perbekalan si tante pun dikuras untuk meringankan bawaan.. hahaha

dan hanya sekitar 3 jam,, kami sudah kembali di Komando bawah...

Alhamdulillah...

perjalanan pun kembali menuju bandung kota,, istirahat sejenak untuk segera menuju Jakarta..

Alhamdulillah... Alhamdulillah ya Allah..

SEKELUMIT MEMORI

dengan tante-tante yang tetep keren

sepanjang mata memandang... semoga selalu terjaga

situ lembang dari kejauhan

naris yang tak kunjung padam

Jumat, 10 Desember 2010

Somewhere Home



Judul : Somewhere Home
Penulis : Nada Awar Jarrar
Penerjemah : Catherine Natalia
Penerbit : Qanita, Bandung
Cetakan I : Januari 2007
Tebal : 284 halaman


---
schön,, gut,, bagus banget kesan yang saya dapat selepas membaca novel yang berkisah tentang perempuan dan pergolakan di dalamnya. caranya bercerita begitu halus tapi membuai.

Perempuan oh perempuan,, makhluk Tuhan yang begitu kompleks dan selalu jadi bahan pembicaraan yang tak pernah ada habisnya.

Di beberapa negara, perempuan menjadi makhluk yang terpinggirkan dan terabaikan hak-haknya, dan kerap tak diakui keberadaannya,. kehadiran anak perempuan di masa Arab Jahiliyah bahkan dianggap aib keluarga.. (padahal manusia lahir dari rahimnya perempuan bukan??).

banyak pemberontaan dan perlawanan oleh kaum perempuan, baik yang secara frontal terang-terangan maupun yang secara halus melalui sastra atau melalui dunia tulis menulis . ini mungkin yang coba diangkat oleh penulis. Menceritakan perlawanan perempuan mengenai tradisi yang ada melalui ketiga tokoh utama dalam cerita ini.
***
* Maysa, seorang istri yang tinggal di Kota Beirut bersama suaminya, di dalam kekacauan perang kembali ke kampong halaman keluarganya, di bawah kaki gunung. Di tempat inilah Maysa merenungi dan mengingat kembali perjalan para wanita di keluarganya, Alia sang nenek, yang hidup di saat tradisi tak bisa diganggu gugat, yang berjuang sendiri membesarkan anak-anaknya karena ditinggalkan suami yang merantau. Selain sebagai ibu yang lembut, Alia bisa sangat keras mengajarkan kemandirian pada puter-puteranya menggantikan peran suaminya. Saeeda sang bibi yang sepanjang hidupnya harus dihabiskan untuk mengurusi mertuanya dan ibunya sehingga kebahagiannya tak penting lagi. Dan Leila ibunya yang merasa Libanon bukan “rumahnya” namun harus tetap ditinggalinya karena bersama suaminya dia tinggal di Libanon. Dan Leila pun mengalami hal yang dialami ibu mertua, membesarkan putera-puteranya sendiri karena ditinggal suaminya merantau, suatu hal turun temurun yang terjadi di keluarga ini.
Maysa memiliki ikatan yang luar biasa dengan rumah batunya. Rumah masa kecilnya dihabiskan bersama saudara-saudaranya. Dan dia memutuskan tinggal di sini membesarkan sendiri puterinya, Yasminna, sementara suaminya memilih untuk tetap tinggal di kota. Seiring putrinya beranjak besar, sang puteri pun memutuskan tinggal bersama ayahnya. Dan Maysa pun menyadari pada dasarnya rumahnya bersama suami dan putrinya.

* Aida, seseorang yang tidak pernah bisa melepaskan sosok pengasuhnya, seseorang yang dianggap sebagai ayah keduanya. Orang yang dicintainya hingga ia dewasa dan jauh dari Lebanon, bahkan setelah pengasuhnya meninggal dunia. Ketika dewasa Aida kembali ke kampung halamannya untuk kembali menyusuri jejak-jejak yang ditinggalkan masa kecilnya bersama sang pengasuh. Ketika kembali ke Libanon inilah Aida berkenalan dengan seorang dokter yang mengabdi di sebuah desa di kaki gunung yang mengantarkannya pada sebuah rumah batu yang sangat menarik. Aida langsung jatuh cinta kepada rumah itu.
* Salwa, wanita tua yang “direnggut” dari tanah airnya saat dia seorang istri dan ibu muda, mengingat kembali kehidupannya dari tempat tidurnya di rumah sakit, dikelilingi oleh keluarganya, namun tetap, dalam perasaannya, jauh dari rumah.
***
Menggunakan teknik cerita yang unik, yang menurutku begitu manis dan halus,, melalui Maysa, Alia, dan Aida, penulisnya mengajak kita menyerapi perlawanan (pergolakan batin) para perempuan Libanon yang betjuang mendapatkan hak-haknya sebagai seorang istri, seorang ibu dan perempuan di tengah masyarakat, yang uniknya dan dikemas secara menarik tiga tokoh ini dihubungkan oleh satu rumah di kaki gunung.
Namun dengan alur yang melompat-lompat, pembaca dibebaskan menangkap ide tersirat dalam setiap paragraf.
Pada intinya novel ini bercerita tentang perempuan yang terikat kuat dalam tradisi konservatif, tentang perbedaan antara desa dan kota, dan tentang kesenjangan. Penulis mengajak kita untuk melihat perempuan tidak hanya sebagai obyek namun perempuan juga pantas diberi ruang gerak lebih selama masih bisa bertanggungjawab atas tindakan dan keputusannya.

Senin, 15 November 2010

7 ????... wieder verlasst mich


hari ini.. satu lagi angka 7 pavoritku menggelinding keluar dari arena.. hohoho..
7 bulan, 7 tahun, 17 tahun dan sekarang 7 berikutnya..

hmm.. waktu berasa cepat sekali seperti di dalam arena balap.. meninggalkan kita terengah-engah dalam lintasannya.

27.. angka yang begitu spesial dan akan sangat berkesan dalam kehidupanku.. dimana pernah menggantungkan cita-cita dan cinta lebih tinggi dari puncak gunung-gunung yang pernah kucapai.. pernah tersaruk-saruk menahan perih karenanya, pernah menangis pilu karena ketidakpahaman akan hidup yang semakin berasa kejam..

dan di tahun ini juga tahun yang penuh tawa,, canda dan perjuangan... bersama para sahabat berpacu menembus lebatnya hutan, tersaruk dan terjatuih namun tetap tertawa..

dan kini semuanya hanya bisa kutertawakan.. yupz.. karena aku tidak akan menyerah untuk terus mengejarnya.. akan terus mencoba mengerti makna dari tiap detiknya, dari setipa lelahnya, dari setiap tawa dan air mata yang tertumpah..

SEMANGAT..

semoga tahun berikutnya.. aku kan menjadi pribadi yang lebih baik,, lebih tegar, lebih kuat dan tidak takut bermimpi.. Alles Gute dan semoga berkah Allah bersamaku, keluargaku dan sahabat-sahabatku..

Sabtu, 06 November 2010

Padam


ternganga memandang langit

semua tampak samar

banyak rasa namun hampa kata

semua bergelayutan manja

menarik-narik dan menjerat semakin erat

membuat berasa sesak dan semakin khilaf

ada biru, jingga, kelabu hingga pekatnya hitam

rintik-rintik hujan berasa menjadi senandung rindu


memandang lautan luas

hanya biru dan biru

membuat rindu berasa sendu

terseret dalam gelombang dan kedalaman

berlayar ketepian mencari pegangan

lelah dan terhempas


aku kalah dan menyerah

lelah jiwaku pasrah


wahai awan,, tak bisakah kau singgah??

sejenak menaungi resahku?

menemaniku setelah lampuku padam

setelah kubiarkan semua kapal pergi menjauh..


tak ada lagi tanda

tak ada signal

tak ada lagi sinarku


mercusuarku padam dan tenggelam..

Selasa, 02 November 2010

Rasa itu...

rasanya beda...


dulu.. rasa itu membuat jemariku lincah menari..

tak perduli hujan, panas atau badai

entah pelangi atau hanya fatamorgana

jemariku terus saja bergerak dan bergerak dalam satu ritme


rasanya tak sama...


dulu.. rasa itu membuat bibirku terus bergerak

menyanyi, bersenandung dan terus bercerita

tak ingin berhenti mendongeng dan bermimpi

setiap untaian lagu terasa bermakna

setiap lantunan syair terasa menghujam jiwa..


rasa itu...

membuatku belajar tentang satu fase kehidupan

mengajarkan kebijaksanaan

mengenalkan jenis-jenis hujan

merasakan badai dan hempasan angin


rasa itu...

membuatku berburu indahnya jingga sang mentari

menikmati setiap langkah yang kupijak


kini.. rasa itu berbeda


membuat jemari-jemariku kaku

resah gelisah tanpa asa

bibirku mengunci

mengurungku dalam gua keragu-raguan


pengap.. namun terus berharap

teriakan-teriakan yang terkurung

memantul dan terus kembali ke arah yang sama


rasa itu... hanya sebuah rasa


yang pada akhirnya akan terkubur atau kembali ke muaranya..

---

02.11.10