Sabtu, 26 Februari 2011

Padi - Sang Penghibur

  • Sang Penghibur


    Setiap perkataan yang menjatuhkan
    Tak lagi kudengar dengan sungguh
    Juga tutur kata yang mencela
    Tak lagi kucerna dalam jiwa

    Aku bukanlah seorang yang mengerti
    Tentang kelihaian membaca hati
    Ku hanya pemimpi kecil yang berangan
    Tuk merubah nasibnya

    Oh..bukankah ku pernah melihat bintang
    Senyum menghiasi sang malam
    Yang berkilau bagai permata
    Menghibur yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya
    Yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya

    Kugerakkan langkah kaki
    Dimana cinta akan bertumbuh
    Kulayangkan jauh mata memandang
    Tuk melanjutkan mimpi yang terputus

    Masih kucoba mengejar rinduku
    Meski peluh membasahi tanah
    Lelah, penat tak menghalangiku
    Menemukan bahagia

    Oh..bukankah ku pernah melihat bintang
    Senyum menghiasi sang malam
    Yang berkilau bagai permata
    Menghibur yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya
    Yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya

    Yang lelah jiwanya…

    Oh..bukankah ku bisa melihat bintang
    Senyum menghiasi sang malam
    Yang berkilau bagai permata
    Menghibur yang lelah jiwanya…

    Bukankah hidup ada perhentian
    Tak harus kencang terus berlari
    Kuhelakan nafas panjang
    Tuk siap berlari kembali…berlari kembali
    Melangkahkan kaki…menuju cahaya

    (Bagai bintang yang bersinar, menghibur yang lelah jiwanya
    Bagai bintang yang berpijar, menghibur yang sedih hatinya)


http://musiklib.org/Padi-Sang_Penghibur-Lirik_Lagu.htm

  • Sang Penghibur


    Setiap perkataan yang menjatuhkan
    Tak lagi kudengar dengan sungguh
    Juga tutur kata yang mencela
    Tak lagi kucerna dalam jiwa

    Aku bukanlah seorang yang mengerti
    Tentang kelihaian membaca hati
    Ku hanya pemimpi kecil yang berangan
    Tuk merubah nasibnya

    Oh..bukankah ku pernah melihat bintang
    Senyum menghiasi sang malam
    Yang berkilau bagai permata
    Menghibur yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya
    Yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya

    Kugerakkan langkah kaki
    Dimana cinta akan bertumbuh
    Kulayangkan jauh mata memandang
    Tuk melanjutkan mimpi yang terputus

    Masih kucoba mengejar rinduku
    Meski peluh membasahi tanah
    Lelah, penat tak menghalangiku
    Menemukan bahagia

    Oh..bukankah ku pernah melihat bintang
    Senyum menghiasi sang malam
    Yang berkilau bagai permata
    Menghibur yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya
    Yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya

    Yang lelah jiwanya…

    Oh..bukankah ku bisa melihat bintang
    Senyum menghiasi sang malam
    Yang berkilau bagai permata
    Menghibur yang lelah jiwanya…

    Bukankah hidup ada perhentian
    Tak harus kencang terus berlari
    Kuhelakan nafas panjang
    Tuk siap berlari kembali…berlari kembali
    Melangkahkan kaki…menuju cahaya

    (Bagai bintang yang bersinar, menghibur yang lelah jiwanya
    Bagai bintang yang berpijar, menghibur yang sedih hatinya)


http://musiklib.org/Padi-Sang_Penghibur-Lirik_Lagu.htm

Setiap perkataan yang menjatuhkan
Tak lagi kudengar dengan sungguh
Juga tutur kata yang mencela
Tak lagi kucerna dalam jiwa

Aku bukanlah seorang yang mengerti
Tentang kelihaian membaca hati
Ku hanya pemimpi kecil yang berangan
Tuk merubah nasibnya

Oh..bukankah ku pernah melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya
Yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya

Kugerakkan langkah kaki
Dimana cinta akan bertumbuh
Kulayangkan jauh mata memandang
Tuk melanjutkan mimpi yang terputus

Masih kucoba mengejar rinduku
Meski peluh membasahi tanah
Lelah, penat tak menghalangiku
Menemukan bahagia

Oh..bukankah ku pernah melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya
Yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya

Yang lelah jiwanya…

Oh..bukankah ku bisa melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya…

Bukankah hidup ada perhentian
Tak harus kencang terus berlari
Kuhelakan nafas panjang
Tuk siap berlari kembali…berlari kembali
Melangkahkan kaki…menuju cahaya

(Bagai bintang yang bersinar, menghibur yang lelah jiwanya
Bagai bintang yang berpijar, menghibur yang sedih hatinya)


http://musiklib.org/Padi-Sang_Penghibur-Lirik_Lagu.htm

Setiap perkataan yang menjatuhkan
Tak lagi kudengar dengan sungguh
Juga tutur kata yang mencela
Tak lagi kucerna dalam jiwa

Aku bukanlah seorang yang mengerti
Tentang kelihaian membaca hati
Ku hanya pemimpi kecil yang berangan
Tuk merubah nasibnya

Oh..bukankah ku pernah melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya
Yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya

Kugerakkan langkah kaki
Dimana cinta akan bertumbuh
Kulayangkan jauh mata memandang
Tuk melanjutkan mimpi yang terputus

Masih kucoba mengejar rinduku
Meski peluh membasahi tanah
Lelah, penat tak menghalangiku
Menemukan bahagia

Oh..bukankah ku pernah melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya
Yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya

Yang lelah jiwanya…

Oh..bukankah ku bisa melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya…

Bukankah hidup ada perhentian
Tak harus kencang terus berlari
Kuhelakan nafas panjang
Tuk siap berlari kembali…berlari kembali
Melangkahkan kaki…menuju cahaya

(Bagai bintang yang bersinar, menghibur yang lelah jiwanya
Bagai bintang yang berpijar, menghibur yang sedih hatinya)



-----
suka banget dengan lirik lagu ini...

Bukankah hidup ada perhentian
Tak harus kencang terus berlari
Kuhelakan nafas panjang
Tuk siap berlari kembali…berlari kembali
Melangkahkan kaki…menuju cahaya

Kamis, 17 Februari 2011

AW AW AW... Berselimut Kabut

Jenuh kembali melanda.. membuatku merindukan pelukan kabut dan sentuhan awan.. hmmm..

tak disangka,, seorang kawan dari Surabaya menghubungiku, mengajakku berpetualang ke negeri di atas awan.. ingatkah kalian ceritaku tentang Raung??.. yupz.. Fery mengajakku berpetualang kembali (tak kapok rupanya ia menemaniku selama turun Raung kemarin... wkwkwk).. dengan senangnya kusambut dan kuajukan Arjuna Welirang sebagai pilihanku... berharap ini bisa menjadi penutup Gunung di Jawa Timur yang bisa kudaki,, walau tidak terlalu yakin, mengingat candu yang sedang merasuki tubuhku.. hohoho

hari pun ditentukan... 11-16 jatahku liburan di sana,, berharap banyak waktu yang bisa kuhabisakn dikotanya..

menjelang keberangkatan, kudengar Fhellig, saudara kembar kelingkingnya, pun ikut serta bersama kami.. wuiddiiih senenge Rek!!! ditambah lagi gadis manis asal Porong, yang mau jua meramaikan pendakian kali ini.. Rambo!!!

walau seminggu ini dadaku berasa sakit,, namun tetap kupaksakan jua kesana, karena rasa rinduku pada gumpalan gunung dan dinginnya embun..

...
11 Februari 2011

diawali dengan kegegeran kacamata yang pecah dipagi hari,, dan kesulitan untuk memperoleh gantinya karena minus yang tak sedikit.. Soft lens pun sulit kudapat.. haiyaaks.. geger kepala rasanya.. haruskah batal??

Alhamdulillah.. menjelang siang, Optik langgananku bisa menyediakan Soft Lens,, bahkan kaca mata ku pun selesai diganti kacanya.. namun sayangnya banyak waktu yang terbuang untuk lalu lalang mencari alat bantu penglihatanku ini... mahalnya mataku ya Allah..

Packiiiiiiiing.. semua serba cepat dan dadakan.. grr

sampai di stasiun,, Kertajaya yang sudah kubeli 2 tiket tuk aku dan pegy pun berlalu meninggalkan kami yang mangap ternganga.. kesialan kedua hari ini.. huaaaahhhh

semua tiket habis, dari ekonomi hingga eksklusif.. mau nyari bis tapi mengingat sudah jam pulang kantor, rasanya enggan sekali harus berkutat dijalanan ibu kota yang muacetnya pol..

luntang lantung dengan sejuta nagan dan rencana cadangan.. akhirnya dengan terpaksa membeli tiket Progo lewat calo yang harganya hampir 2 x harga aslinya.. tapi mengingat lebih tidak enak jika membatalkan, setelah kawan-kawan dari Surabaya bersiap menyambut kami tim Kura-kura dari Jakarta.. berangkaaat,, walau harus berliku jalan yang kami tempuh.. Jakarta-Yogya-Surabaya...

12 Februari 2011

setelah 12 jam dalam pengapnya "Progo", sampailah kami di terminal Lempuyangan.. dan bersiap-siap lanjut dengan kereta Logawa.. yang syukurnya datang agak terlambat, hingga membuat kami bernapas sejenak melepas penat sebelum terkurung kembali dalam gerbong..

pukul 5 sore akhirnya tiba jua kami di Wonokromo dengan badan yang lengket dengan peluh... dan dengan bahagianya bisa berjumpa air di stasiun itu.. hohoho.. dan Fhellig sudah menanti kami di sana.. dan lega rasanya melihat dia tersenyum, setelah aku mengacaukan jadwal kami yang seharusnya sudah mulai jalan ke Tretes dari pagi tadi.

Berkumpul di rumah Rambo (Dina) di daerah Porong dan menyiapkan logistik secukupnya..

lewat dari pukul 9 malam,. Aku, Pegy, Fhellig, Fery, Rambo pun memulai perjalanan ke Tretes untuk dilanjutkan ke Pet Bocor,, dari Tretes ke Pet Bocor hanya memakan waktu 20 menit berjalan kaki dan Lek Shinchan (Amin) sudah berada di sana..

ketika yang lainnya memasang tenda,, aku disibukkan dengan kondisi perutku yang mual-mual tak terkendali... jiaaah,, aneh sekali akhir-akhir ini,, beberapa pendakian terakhir selalu dimulai dengan mual, mual dan mual... adakah yang salah??


13 Februari 2011

bangun pagi dengan kondisi segar bugar,, apalagi dengan sarapan sup hangat ala Rambo..

mulai perjalanan dengan basmalah dalam hati.. daaan ya Tuhan.. jalannya.. batu,, batu dan batu.. huaah.. karena jalannya memang jalanan yang dirancang tuk Hard Top atau Jeep yang mengangkut belerang, maka trek jalannya bebatuan.. dan habislah energiku.. pfuuh..

jalan bebatuan sepanjang jalur

penyebab jalan didesain batuan.. untuk jalur jeep pengangkut belerang..

mencoba menerobos jalan-jalan yang konon katanya jalur lama, yang sedikit curam dan tertutup semak... namun sayangnya sudah terputus... dan harus pasrah kaki-kaki imutku menginjak bebatuan runcing yang rasanya tak habis -habisnya..

12.30,, sampailah kami di Kop-Kopan.. (berarti,, dengan jalan yang sangat lambat, kami menempuh Pet Bocor hingga Kop-kopan selama 4 jam lebih.. weew.. O.0)

14.00,, selesai makan dan kopi siang,, perjalanan dilanjutkan menuju Pos berikutnya.. Pondokan..

17.40,, setelah melewati jalan bebatuan yang panjangnya bikin ujung jari sampai betis teriak-teriak minta dibebaskan, melewati jalan yang terus naik ke atas (yang membuat Fery menamakannya sidratul Muntaha... T_T ),, dan jalan naiiiik turuuun,, yang dinamakan empat bukit bayangan, karena setelah melewati tanjakan yang ke empat kami baru benar-benar tiba di pondokan.

tempat ini dinamakan Pondokan,, karena memang banyak pondokan yang dibangun penambang untuk bermalam selama mereka disana.. tapi karena para penambang libur maulid, tak ada satupun penambang yang kami temukan selama di sana.

Lek Min, yang bersama teman-temannya sudah sampai lebih dahulu disana, menyambut kami dengan teh dan kopi hangat... manis sekali mereka,... hohoho

semakin malam,, semakin dingiin udara menusuk tulang.. dan Fe & Fe dengan gesitnya mencari pondokan kosong tuk kami bermalam.. dan menyiapkannya senyaman mungkin..

banyak kejadian lucu yang terjadi malam itu, karena SB yang terbatas dan udara yang dinginnya tak terkira.. ich will daran erinnern..


14 Februari 2011

bangun tidur dengan cekak cekikik mentertawakan kejadian yang terjadi malam tadi,, dan menyantap makan pagi yang sudah Rambo dan Fhelig sediakan..

rencana jalan pukul 7 pagi pun kembali molor menjadi pukul 9 pagi.. dengan membaca Basmallah dalam hati,.. lanjuuuuut.

rombongan kami bertambah dengan rombongan Lek Min dan Mas Agus..

jalan bebatuan dan teriknya mentari di tengah hutan yang gersang ini nyaris membuat otakku meleleh.. Masya Allah... huaahh...

1o menit lewat dari pukul 11 siang,, sampailah di pertigaan antara Arjuna dan Welirang.. di sinilah beban berkurang.. tas-tas disembunyikan pada tempat yang aman, sementara kami naik ke puncak Arjuna., Namun dasar keong.. ada beban atau tak ada, jalannya tetap aja lambat.. ngap-ngapan seperti mujair baru diangkat dari air.. Alhamdulillah kawan-kawanku sabarnya luar biasa.

semakin ke atas, awan dan kabut semakin tebal membuat dadaku deg-degan seperti drumben anak sekolah yang baru belajar nada.. setiba di atas, aku dan Fhellig yang tiba lebih dahulu sempat tertipu puncaknya, karena jalan hampir tak terlihat.. tapi Alhamdulillah doaku terkabul jua,, kabut semakin menipis dan jalan semakin cerah. kami pun segera berlari menyusul Fery yang berjalan cepat mendahului kami menuju puncak sesungguhnya.

Alhamdulillah, walau pemandangan sering terselingi kabut pekat,, namun Allah masih terus menunjukkkan kuasaNya padaku,, dengan memberi kesempatan untukku menyaksikan kebesaranNya.

Foto-Foto di Puncak Arjuna

mejeng dulu sebelum menuju puncak sebenarnya

puncak dari kejauhan

vandalisme dari manusia2 yang katanya Pecinta Alam... weeew

kurang dari pukul 3 sore awan semakin tebal menutupi pandangan, membuat kami segera turun sebelum cuaca semakin memburuk.. dan setibanya di pertigaan tempat kami menyembunyikan carrier, hujan pun turun..

melihat stamina dan cuaca yang tidak bagus tuk melanjutkan perjalanan, tenda pun kami dirikan di lembah sabana.. ajiiiiib dinginnya.

sepanjang malam hujan turun terus membasahi bumi tempat kami berpijak.. tenda basah dan rembes ke dalam.. hmm.. nikmatnya tidur basah-basahan hahahaha….. duingiiiin rek!!

Jadi terpikirkan nasibnya Mas Agus yang memilih ngecamp tepat di bawah Arjuno.. Masya Allah..


15 Februari 2011

Cenat cenut terbangun karena tidur dengan kepala basah…

08.30,, lanjuuuut,, dan Alhamdulillah lek Min gabung menemani tim Keong wkwkwk

11.15,, Pelan tapi pasti walau kabut membatasi pandangan,, kembar 1 kembar 2 terlewati.. dan sampailah di kaki WELIRANG… Alhamdulillah

Berhentilah di Goa Lawa atau Goa Kalelawar.. walau tak ada satu ekor pun yang kami temukan di sana.. toh goa itu terlalu dangkal untuk tinggal Kalelawar yang menyukai kegelapan..

Dan pria-pria itu dengan gesitnya mengeluarkan peralatan masak untuk mengisi perut-perut kami yang mulai bernyanyi sriosa..

Mencoba menidurkan pikiran yang mulai serius bekerja diluar ingin.. hmm.. dan aku gagal..

Tiba-tiba saja merasa tergigit sepi… semua berasa sunyi dan gelap… sepekat kabut yang terus saja menyelimuti kami… dan kulangkahkankan kakiku keluar Goa,, hanya bermaksud meresapi kabut yang erat memelukku..

Selangkah.. selangkah demi selangkah terus menarik kakiku tak mau diam berhenti.. batu-batu besar itu menarik hatiku yang resah… walau gelap, tapi tetap berasa indah di pandanganku… Subhanallah.. dan aku tersadar… wuaaaaaaaah.. aku lupa pulang!!!!!!

Berputar mencoba mengingat jalan yang tekah kulalui.. semua berasa sama… mencoba diam menenangkan batin,, tapi dingin semakin mencengkeram erat.. aah.. ayat-ayat ku lantunkan… sholat pun ku dirikan… tapi tetap mataku tak menangkap jalan yang benar..

***

Yakinkah ku berdiri, di hampa tanpa sepi
Bolehkah aku mendengarmu
Terkubur dalam emosi, tanpa bisa sembunyi
Aku dan nafasku merindukanmu

Terpurukku di sini, teraniaya sepi
Dan kutahu pasti kau menemani… yeah
Dalam hidupku, kesendirianku

Teringat ku teringat, pada janjimu ku terikat
Hanya sekejap ku berdiri, kulakukan sepenuh hati
Tak peduli ku tak peduli, siang dan malam yang berganti
Sedihku ini tiada arti, jika kaulah sandaran hati

Kaulah sandaran hati
Inikah yang kau mau, benarkah ini janjimu
Hanya engkau yang ku tuju
Pegang erat tanganku, bimbing langkah kakiku

Aku hilang arah tanpa hadirmu, dalam gelapnya malam hariku

(sandaran hati-Letto)
***

Ya Allah… jiwamku dalam KuasaMu.

Langkahku dalam BimbinganMU..

Kemanakah jalan yang benar itu???

Naik turun bukit yang terlihat,, hanya semakin merasa jauh dan tak pasti.. kuteriakkan satu-satu nama kawan jalanku,, dari doa hingga titik kepasrahan.. hingga akhirnya sayup-sayup suara Rambo yang terlantang jelas terdengar.. dan huaaah… Allah masih memberiku kesempatan… Alhamdulillah..

Akan kuingat hari itu,,, wajah-wajah itu,,, wajah-wajah yang tetap tersenyum manis menyambutku.. tak ada pertanyaan,, tuntutan,, apalagi kemarahan yang tampak… membuatku tenang dan tidak memperbesar rasa bersalahku.. bahkan Fhellig dengan tenangnya menemaniku menghabiskan teh hangat dan makan siang yang telah mereka siapkan.. hmm.. kapok dah ketika emosi lebih menguasai daripada pikiran sehat..

selesai menghabiskan makan siang sembari menjernihkan hati, segera kususul Ferry dkk yang tengah menuju puncak.. dan ternyata jalannya, ya jalan yang berulangkali kulewati sejak tadi...

sekitar 10m meter menjelang titik tertingginya Welirang, angin berputar kencang membawa partikel2 asap belerang yang membuat paru-paru kami sesak.. mata pun tak jernih melihat karena pekatnya saat itu.. segera Ferry mengintruksikan kami segera turun ke tempat yang lebih aman.. turunlah kami dengan terbatuk-batuk.. ampuun ya Allah.. inilah yang disebut manusia boleh berusaha,, Allah jua yang memutuskan.. gileeee... kurang dari 10 meter bow.. dan harus turunlah kami.. hikz..


ada satu lagi tempat yang sayang bila dilewatkan bila kita berada di Welirang... PENAMBANGAN BELERANG.. kesanalah aku, Peggy, Lek Min dan Ferry ke sana..


sekitar pukul 3 sore, kami sudah siap turun kembali dari Goa Lawa... Hujan mulai turun menemani kami.. dengan kekuatan maksimal yang kami bisa, terus saja kami melangkah nyaris tak berhenti kecuali ketika kami tiba di pos-pos pemberhentian seperti pondokan atau kop-kopan.. hanya untuk melegakan tenggorokan yang kering atu sekedar menarik napas panjang.. hohoho..

dan kami pun berjasil sampai di pos pendaftaran tretes sebelum 10 malam...

Alhamdulillah,, petualangan kali ini baik-baik saja.. Terima kasih ya Allah... Terima kasih untuk AlamMu, terima kasih untuk kawan-kawanku yang baik.. terima kasih untuk kesempatannya..
------------------------
Tim Kali Ini..

Formasi tanpa Lek Min dengan tambahan Mas Agus..

Sabtu, 01 Januari 2011

Santai di Burangrang...

Merasa rindu keheningan, suasana damai dan tenang, pemandangan yang menghijau dan udara yang sejuk tentunya namun tidak terlalu jauh dan menghabiskan banyak waktu... hmm kemana ya??.. tidak lama pikiran itu menggelayut kepalaku yang mulai merasakan begitu rindu akan alam,, seorang "abang" mengajakku menemaninya ke Burangrang, kebetulan minggu itu dia mau mengantar kawan-kawannya sekaligus mendidik para junior sekaligus mahasiswanya.. tanpa babibu saya iyakan.. hmmm hurrraaaaa...


24 Desember 2010


setelah memastikan semua pekerjaan dan kamar dalam keadaan beres, selepas maghrib berangkat ke Bandung meggunakan Primajasa terakhir dari terminal Priuk.. dan berangkaaat..

sampai di Lewipanjang, Bandung sangat malam, namun masih disambut bang mukhlis dan ambu dengan ramahnya di kawasan cibaduyut... (bertamu kok malam-malam sih noenk O.o)

istirahat dan packing ulang sebelum memejamkan mata yg sebenernya sangat tidak mengantuk.. menerwarang memandang langit-langit dan berpikir amazingnya hidupku.. lagi-lagi kenal satu keluarga karena dunia maya.. abah Mukhlis dan Ambu.. huaaah,, ga sabar melihat kembar esok harinya..


25 Desember 2010

terbangun masih terlalu pagi dan sholat dengan arah kiblat yang salah.. alamaaak,, bodoh sekali tidak bertanya sebelumnya... huhuu

namun begitu kembar bangun dan bermain,, berasa keringat dan menyenangkan.. lumayaan pemanasan sebelum naik wkwkwkw

susahnya foto bareng si kembar

08.30,, siap berangkaaaat..

berangkat dari rumah bang Mukhlis dan menjemput tiga kawannya yang sudah menuggu , tiga orang srikandi yang ternyata juga asal Jakarta... Para ibu-ibu muda yang masih tetep eksis terhadap hobi dan kecintaanya terhadap alam.. luar biasa... dan lima mahasiswanya yang masih lucu-lucunya.. alaamaaaks...

setelah makan siang, dengan naik angkot putih dari kawasan ledeng atau jalan bajuri, kami bersepuluh berangkat menuju Pos Komando.. turun di persimpangan jalan berbatu.. dan masih harus jalan kaki lagi menuju pos Komandonya... ampuuuun,, bisa remek duluan body gw.. hehehe.. tapi ternyata ada ojek yg bisa disewa sampai pos,, dan hanya 5rb dengan perjalanan yang lumayan ngerusak, secara grudukan abizz.. hmm


sekitar pukul 2, tibalah kami di Pos.. dan ada beberapa kopasus disana.. basa basi dan sholat.. menjelang sore perjalanan

selepasa Ashar, perjalanan dilanjutkan.. Alhamdulillah medannya tidak terlalu sulit.. pemandangan hutan pinus yang terhampar luas bagai permadanai hijau di kaki kami menyegarkan mata yang memandang..

perjalanan kali ini benar-benar beda dibandingkan perjalan saya sebelum-sebelumnya.. dibandingkan tim sirkus yang terbiasa berjalan cepat dan sering kali membuat saya kewalahan menyamakan langkah, perjalanan bersama Bang Mukhlis, mahasiswanya yang baru saja mengenal jelajah alam dan beserta tante-tante yang luar biasa ini memberikan sensasi baru, dimana perjalanan santai tanpa mengejar target benar-benar membuat saya merasakan kedamaian lebih dari biasanya.. setiap detilnya mampu saya ingat.. Pinus-pinus yang rapat, Situ Lembang dari kejauhan.. bahkan kontur tanah yang saya pijak... walau tidak dipungkiri memberikan saya sedikit kebosanan karena terlalu seringnya berhenti. mungkin karena saya tidak bisa menikmati tiap momennya seperti mereka dengan kamera canggih bervariasi.. atau karena saya terbiasa berlari-lari bersama tim Sirkus..

yang pasti.. saya merasakan kedamaiannya.. terlebih "minimarket" tersedia.. hahaha... gileee,,

menjelang senja,, hujan turun.. aku yang tak bawa raincoat ya cukup menikmati saja tiap rintiknya,, dan akhirnya dipinjami payung oleh Mba Rina..

melihat keadaan yang tak pasti di depan,,dikarenakan banyak pendaki yang datang minggu itu.. Bang Mukhlis setelah mencari tahu sebelumnya memutuskan kami tuk bermalam disana... masih berapa ratus meter dibawah puncak Burangrang.. sekitar lebih dari sejam tuk menggapai puncaknya..


26 Desember 2010


setelah sarapan secukupnya, perjalana pun dilanjutkan.. setelah sedikit mendaki jalan yang semakin lama semakin naik ke atas, dan harus berpegangan pada tali-tali yang telah disediakan oleh entah siapa,,

-jalan ini dijuluki Bang Mukhlis Hilary Step hmm.. lumayaan-

lebih dari sejam pun sampailah di puncaknya.. 2050 mdpl.. trangulasi pun didirkan sebagai penandanya..

dan benarlah perhitungan Bang Mukhlis untu mendirikan tenda di bawah tadi.. penuh sekali di atas sini..untuk bergerak mengambil gambar pun mengalami kesulitan..

09.00,, kami segera kembali ke tenda untuk segera makan dan packing dan turun..

segala perbekalan si tante pun dikuras untuk meringankan bawaan.. hahaha

dan hanya sekitar 3 jam,, kami sudah kembali di Komando bawah...

Alhamdulillah...

perjalanan pun kembali menuju bandung kota,, istirahat sejenak untuk segera menuju Jakarta..

Alhamdulillah... Alhamdulillah ya Allah..

SEKELUMIT MEMORI

dengan tante-tante yang tetep keren

sepanjang mata memandang... semoga selalu terjaga

situ lembang dari kejauhan

naris yang tak kunjung padam

Jumat, 10 Desember 2010

Somewhere Home



Judul : Somewhere Home
Penulis : Nada Awar Jarrar
Penerjemah : Catherine Natalia
Penerbit : Qanita, Bandung
Cetakan I : Januari 2007
Tebal : 284 halaman


---
schön,, gut,, bagus banget kesan yang saya dapat selepas membaca novel yang berkisah tentang perempuan dan pergolakan di dalamnya. caranya bercerita begitu halus tapi membuai.

Perempuan oh perempuan,, makhluk Tuhan yang begitu kompleks dan selalu jadi bahan pembicaraan yang tak pernah ada habisnya.

Di beberapa negara, perempuan menjadi makhluk yang terpinggirkan dan terabaikan hak-haknya, dan kerap tak diakui keberadaannya,. kehadiran anak perempuan di masa Arab Jahiliyah bahkan dianggap aib keluarga.. (padahal manusia lahir dari rahimnya perempuan bukan??).

banyak pemberontaan dan perlawanan oleh kaum perempuan, baik yang secara frontal terang-terangan maupun yang secara halus melalui sastra atau melalui dunia tulis menulis . ini mungkin yang coba diangkat oleh penulis. Menceritakan perlawanan perempuan mengenai tradisi yang ada melalui ketiga tokoh utama dalam cerita ini.
***
* Maysa, seorang istri yang tinggal di Kota Beirut bersama suaminya, di dalam kekacauan perang kembali ke kampong halaman keluarganya, di bawah kaki gunung. Di tempat inilah Maysa merenungi dan mengingat kembali perjalan para wanita di keluarganya, Alia sang nenek, yang hidup di saat tradisi tak bisa diganggu gugat, yang berjuang sendiri membesarkan anak-anaknya karena ditinggalkan suami yang merantau. Selain sebagai ibu yang lembut, Alia bisa sangat keras mengajarkan kemandirian pada puter-puteranya menggantikan peran suaminya. Saeeda sang bibi yang sepanjang hidupnya harus dihabiskan untuk mengurusi mertuanya dan ibunya sehingga kebahagiannya tak penting lagi. Dan Leila ibunya yang merasa Libanon bukan “rumahnya” namun harus tetap ditinggalinya karena bersama suaminya dia tinggal di Libanon. Dan Leila pun mengalami hal yang dialami ibu mertua, membesarkan putera-puteranya sendiri karena ditinggal suaminya merantau, suatu hal turun temurun yang terjadi di keluarga ini.
Maysa memiliki ikatan yang luar biasa dengan rumah batunya. Rumah masa kecilnya dihabiskan bersama saudara-saudaranya. Dan dia memutuskan tinggal di sini membesarkan sendiri puterinya, Yasminna, sementara suaminya memilih untuk tetap tinggal di kota. Seiring putrinya beranjak besar, sang puteri pun memutuskan tinggal bersama ayahnya. Dan Maysa pun menyadari pada dasarnya rumahnya bersama suami dan putrinya.

* Aida, seseorang yang tidak pernah bisa melepaskan sosok pengasuhnya, seseorang yang dianggap sebagai ayah keduanya. Orang yang dicintainya hingga ia dewasa dan jauh dari Lebanon, bahkan setelah pengasuhnya meninggal dunia. Ketika dewasa Aida kembali ke kampung halamannya untuk kembali menyusuri jejak-jejak yang ditinggalkan masa kecilnya bersama sang pengasuh. Ketika kembali ke Libanon inilah Aida berkenalan dengan seorang dokter yang mengabdi di sebuah desa di kaki gunung yang mengantarkannya pada sebuah rumah batu yang sangat menarik. Aida langsung jatuh cinta kepada rumah itu.
* Salwa, wanita tua yang “direnggut” dari tanah airnya saat dia seorang istri dan ibu muda, mengingat kembali kehidupannya dari tempat tidurnya di rumah sakit, dikelilingi oleh keluarganya, namun tetap, dalam perasaannya, jauh dari rumah.
***
Menggunakan teknik cerita yang unik, yang menurutku begitu manis dan halus,, melalui Maysa, Alia, dan Aida, penulisnya mengajak kita menyerapi perlawanan (pergolakan batin) para perempuan Libanon yang betjuang mendapatkan hak-haknya sebagai seorang istri, seorang ibu dan perempuan di tengah masyarakat, yang uniknya dan dikemas secara menarik tiga tokoh ini dihubungkan oleh satu rumah di kaki gunung.
Namun dengan alur yang melompat-lompat, pembaca dibebaskan menangkap ide tersirat dalam setiap paragraf.
Pada intinya novel ini bercerita tentang perempuan yang terikat kuat dalam tradisi konservatif, tentang perbedaan antara desa dan kota, dan tentang kesenjangan. Penulis mengajak kita untuk melihat perempuan tidak hanya sebagai obyek namun perempuan juga pantas diberi ruang gerak lebih selama masih bisa bertanggungjawab atas tindakan dan keputusannya.